GEBI

Dunia Yang Berserak

Friday, June 03, 2005

Sajidah dan Wanita Idaman Lain

“Hal terpenting dalam pernikahan, seorang suami jangan pernah membiarkan isterinya merasa tertindas, hanya karena dia perempuan, dan aku lelaki.” Saddam Hussein.

Akankah perjalanan biduk rumahtangganya bersama Sajidah seindah pernyataan Saddam Hussein kepada malajah Al-Mar’ah, tahun 1978? Seperti kebanyakan pasangan di dunia Arab, Saddam telah “dijodohkan” dengan Sajidah pada usia 5 tahun. Sajidah, puteri paman Saddam, Khairallah Tulfah, berusia dua tahun lebih tua. Guru Sekolah Dasar ini nyaris tak pernah bertemu lagi dengan calon suaminya hingga usia 21 tahun. Mereka menikah tahun 1958, dan Sajidah melahirkan 5 anak – Uday, Qusay, Raghad, Rana dan Hala.

Setelah Partai Ba’ath berkuasa, 1963, Saddam kembali dari pengasingan di Kairo, Mesir – (ia melarikan diri karena terlibat kudeta terhadap Perdana Menteri Abdul Karim Qasim). Di bawah pemerintahan presiden Abdul Salam Muhammad Arif, Saddam mulai menapaki karir politiknya sebagai interogator. Setelah membentuk Dinas Polisi Rahasia Irak, karir Saddam kian cemerlang. Lebih lagi ketika ia diangkat sebagai Wakil Sekjen Partai Ba’ath, 1968, posisi yang mengantarkannya pada jabatan Wakil Presiden Irak, mendampingi Presiden Ahmad Hasan al-Bakr. Tentu saja jabatan ini berimbas pada perubahan kehidupan rumahtangga Sajidah-Saddam, pasangan dari desa kumuh nan melarat Al-Awja, Tikrit.

Sajidah bebas bepergian ke Jenewa maupun Paris, memborong perhiasan dan pakaian mahal, apalagi setelah menjadi first lady, 1979. Setiap tanggal 28 April, Sajidah menggelar pesta meriah ulang tahun sang suami di istananya yang megah – belakangan ultah Saddam malah menjadi “hari nasional”. Saddam pun, berbeda dengan para pemimpin Arab lain, mengumbar kehidupan keluarganya kepada publik. Potret Saddam sebagai suami setia dan bapak yang baik – misalnya gambar dirinya tengah membantu sang anak mengerjakan PR, atau berlayar dan berenang bersama keluarga di sungai Tigris, bertebaran di setiap sudut jalanan Irak.

Semanis itukah realitas hubungan Saddam-Sajidah? Pada awalnya memang ya, tapi setelah beberapa tahun Saddam berkuasa, ia diyakini memiliki wanita idaman lain. Tapi tentu saja tak “sesuram” yang digambarkan sejumlah media Barat, yang menjulukinya sebagai Sultan Shahriar, tokoh dalam kisah Seribu Satu Malam yang kerap membunuh wanita teman kencannya. Jenderal Wafiq Samarai, Kepala Badan Intelijen Irak selama perang Iran-Irak dan kemudian hengkang keluar negeri tahun 1991, membantah julukan itu. “Kisah perkosaan dan pembunuhan itu bohong belaka. Dia bukan tipe lelaki macam itu, dan sangat hati-hati bertindak. Dia memang punya hubungan dengan wanita lain, tapi yang diyakini tak akan mengumbar rahasia,” kata Samarai.

Samira Shahbandar

Desas-desus seputar wanita lain Saddam muncul di berbagai media asing, misalnya Daily Telegraph, Inggris, yang kemudian dikonfirmasi dalam buku biografi Saddam tulisan Judith Miller dan Laurie Mylroie. Kabar itu kian diyakini kebenarannya setelah Abbas al-Janabi, mantan sekretaris pribadi Uday yang hengkang ke Inggris tahun 1998, bicara blak-blakan kepada al-Hayat. Harian Arab yang berbasis di London ini memuat serial wawancara dengan al-Janabi selama 3 hari pada Oktober 1998.

Menurut al-Janabi, Saddam menikah diam-diam dengan Samira Shahbandar tahun 1986. Wanita berambut pirang ini seorang pramugari yang bersuamikan Nuruddin al-Safi, karyawan Iraqi Airlines. Tentu, mengetahui “hasrat” sang Presiden yang kala itu sangat berkuasa, Nuruddin mengalah, dan sebagai imbalannya, ia diangkat menjadi direktur perusahaan penerbangan itu. Samira adalah anak seorang saudagar terhormat di Baghdad, berdarah Irak-Suriah.

Benar kata Samarai, Saddam tidak gegabah, dan bahkan ia menutupi wanita keduanya dari incaran publik. Samira dibiarkan tinggal di Suriah, meskipun sering berkunjung ke Baghdad. Dari Samira Saddam memiliki seorang putera, Ali, yang sangat disayanginya. Ali (kini berumur 18 tahun), juga hidup di Suriah di bawah penjagaan ketat kaki tangan Saddam. Ketika Samira belakangan hijrah ke Beirut, Ali pindah ke Baghdad.

Tentu saja, meskipun ditutupi, pernikahan Saddam tercium juga oleh Sajidah dan anak-anaknya. Dan mereka menentang keras. Mengekspresikan kecemburuannya, Sajidah segera mengecat pirang rambutnya. Adik Sajidah, Adnan Khairallah Tulfah, terang-terangan mengritik pernikahan kedua Saddam. Tak berapa lama Adnan tewas dalam kecelakaan helikopter yang ditumpanginya – rumor pun berseliweran bahwa insiden itu dirancang Saddam.

Tantangan keras tentu muncul dari anak-anak Sajidah, terutama Uday yang berwatak beringas dan sangat menyayangi ibunya. Pada sebuah jamuan malam di atas sungai Tigris yang dihadiri isteri Presiden Mesir, Suzanne Hosni Mubarak, tahun 1988, Uday yang sedang mabuk berat, memukul kepala Kamel Hanna Jajo dengan tongkat. “Esoknya Kamel tewas di rumah sakit, sedangkan Suzanne Mubarak mempercepat lawatannya. Kusaksikan sendiri peristiwa itu,” kata al-Janabi.

Kamel, pengawal setia sekaligus pencicip makanan Saddam, dianggap sebagai mak comblang yang mempertemukan Saddam dan Samira. Sajidah mengadukannya pada Uday, meskipun belakangan ia mengaku menyesal karena ternyata bukanlah Kamel mak comblang “perselingkuhan” suaminya. Saking marahnya, Saddam kemudian “mengasingkan” Uday ke Swiss selama berbulan-bulan. Dan sejak peristiwa itulah, Sajidah mengasingkan diri dari kehidupan publik, termasuk dari suaminya, meskipun Saddam tak pernah benar-benar menceraikannya.

Bukan cuma Samira, sebenarnya. Menurut Patrick Cockburn, penulis buku Saddam: an American Obsession, mantan Presiden Irak juga dikabarkan menikahi Nedhal al-Hamdani, seorang penari asal Mosul. Bahkan awal tahun 2000, Saddam menikahi Iman Huweish, wanita muda (kini 28 tahun), puteri dari Menteri Industri Militer Irak. September tahun lalu, seorang wanita Yunani, Parisoula Lampsos (55 tahun) yang kini tinggal di Beirut, kepada ABC News juga mengaku “berhubungan” dengan Saddam selama 30 tahun.

Ali Saddam Hussein

Namun kebenaran kisah tiga wanita terakhir masih simpang-siur, berbeda dengan kisah pernikahan Saddam-Samira. Raghad Saddam Hussein sendiri kepada televisi Al-Arabiya tak membantah. “Menikah lagi atau tidak, yang penting dia tak melupakan kewajibannya pada keluarga. Sebagai bapak, dia tak melupakan tugasnya menjaga putera-puterinya. Ia tetap menyayangi kami dan memberi apa yang diminta. Di luar itu, dia bebas menentukan kehidupan pribadinya, dan aku tak bisa mencegahnya kenapa ayah menikahi wanita lain,” kata Raghad. Namun Raghad ogah mengungkap pengaruh pernikahan kedua Saddam bagi keluarganya. “Anda tanya saja ibuku,” katanya.

Raghad juga mengaku hanya mendengar kabar dari orang tentang keberadaan Ali, adik tirinya. Malah ia bercanda, jangan-jangan Ali yang disebut-sebut adalah anaknya sendiri. Kebetulan, tahun 1984 Raghad melahirkan anak dari pernikahannya dengan Hussain Kamil, yang dinamai Ali. “Ketika anakku lahir, tersebarlah isu bahwa ayahku punya anak lagi,” katanya. Namun Raghad buru-buru menambahkan, “aku tak mau membantah atau membenarkan soal keberadaan Ali Saddam Hussein. Hanya Allah yang tahu!”

Al-Janabi membenarkan keberadaan Ali. Menurutnya, atas perintah Saddam, Ali yang menjadi anggota Dewan Atletik Irak, mendapat pengawalan khusus, guna menghindari gangguan Uday. “Qusay saja dibenci Uday, apalagi Ali,” kata al-Janabi. Uday, direktur Dewan Atletik Irak yang juga menguasai sejumlah media massa Irak, tak pernah mengijinkan satu pun media Irak mengungkit keberadaan Ali.

Kini, Ali menjadi satu-satunya harapan penerus Saddam pasca kematian Uday dan Qusay. Ia diyakini bersembunyi di kawasan Tikrit atau Samara. Meskipun tidak termasuk 50 orang yang dicari di Irak, Pentagon menjadikannya salah satu target penyergapan – dan berupaya menangkapnya hidup-hidup. Ali menjadi kunci utama untuk menguak posisi keberadaan Saddam.

Muna Galbia Maulida
Insani-17, September 2003

0 Comments:

Post a Comment

<< Home