GEBI

Dunia Yang Berserak

Thursday, June 02, 2005

Pesona Tinju Laila Ali

Puteri bungsu Muhammad Ali kini menjadi magnet tinju wanita dunia. Laila pernah sangat membenci bapaknya, dan agama yang dianutnya.

Para penggemar tinju dunia pasti tak sabar menanti tanggal 23 Agustus ini. Hari itu, ring tinju Biloxi, Mississippi, Amerika Serikat, akan mempertemukan dua wanita petinju legendaris di kelas super middle. Laila Ali, puteri “The Greatest” Muhammad Ali, akan beradu jotos dengan Christy Martin. Laila (26 tahun), punya rekor tak terkalahkan dari 15 kali pertandingan – 12 di antaranya menang KO. Sedangkan Christy (35 tahun), adalah petinju wanita pertama yang bertanding secara profesional di ring tinju dunia, tahun 1996. Ia memiliki rekor bertanding 45-2-2, dengan 30 kemenangan KO.

Panasnya atmosfir pertarungan sudah terasa sejak 3 Juli lalu, ketika berlangsung jumpa pers yang mempertemukan dua petinju di Gulfport, Mississippi. Rupanya dua petinju tak sabar cuma mengumbar strategi. Christy lantas melontarkan ejekan sengit saat Laila tampil di podium. “Kenapa kau tak duduk rileks di kursimu, wanita pingitan,” bentak Laila. Ketika Christy tak diam juga, Laila berteriak, “Kau menantang aku, little momma?”

“Pertarungan” pun tak terelakkan. Christy mendekat ke podium, dan tangan gesit Laila menyambutnya dengan jambakan. Tangan Christy juga menjambak rambut Laila. Untunglah, suami Laila, Johnny “Yahya” McClain segera melerai. “Johnny ikut menjambak rambutku, padahal cuma wanita yang menjambak,” kata Christy kepada wartawan. “Boleh saja Christy punya segudang pengalaman bertinju, tapi cuma dengan para penari telanjang dan pelacur. Rekornya tidak seperti Oscar De La Hoya atau Sugar Shane Mosley,” kata Laila tak mau kalah.

Banyak yang menganggap adegan tadi cuma sandiwara belaka. Harap maklum, hingga akhir Desember 2001, Christy dipromotori Don King, juragan tinju yang sangat piawai mengemas “drama jumpa pers” sebelum pertarungan sungguhan. Christy sendiri mengakuinya usai jumpa pers. “Don mengajariku cara menghangatkan suasana,” katanya. Sandiwara atau sungguhan, para penggemar tinju pasti menantikan the real fight 23 Agustus. Mereka terutama sangat menantikan “tarian” Laila, petinju wanita fenomenal yang punya seabrek kelebihan dan tak cuma mengandalkan nama besar bapaknya.

Langsung Pro

Ya, kiprah Laila di ring tinju dunia memang sangat fenomenal. Meskipun anak Muhammad Ali, wanita kelahiran 30 Desember 1977 ini tak pernah “menyentuh” sarung tinju, hingga beberapa saat sebelum memutuskan untuk bertarung di ajang profesional, Oktober 1999 (Laila enggan menapaki lebih dulu ring tinju amatir). Sebelumnya, Laila adalah foto model yang lebih suka berbisnis. Ia mengurus salon kecantikan miliknya di California, setamat kuliah manajemen bisnis di Santa Monica College.

Keputusannya untuk bertinju pun muncul tiba-tiba, ketika Laila tengah mengambil gelar master administrasi bisnis di Universitas Southern California. Laila menyempatkan nonton pertarungan petinju wanita Christy Martin dan Deirdre Gogarty, sebagai selingan sebelum Mike Tyson bertanding dengan Frank Bruno, tahun 1996. Laila menganggap pertarungan Christy-Deirdre lebih menarik ketimbang Tyson-Bruno. “Saat itulah tiba-tiba muncul keinginanku bertinju. Dan kuyakin bisa, karena aku pernah jadi anak badung dan “petarung” jalanan,” kata Laila.

Namun keinginan itu tak pernah terwujud, hingga ia bertemu dengan mantan petinju kelas penjelajah Johnny “Yahya” McClain, pada perayaan ulang tahun Muhammad Ali, tahun 1999. Laila mengumbar minatnya, namun Johnny tak menanggapinya serius, bahkan menertawakan. “Sungguh elok anak Muhammad Ali mau bertinju,” kata Johnny saat itu, menyindir.

Laila tak patah arang. Ia meyakinkan Johnny, bahkan dengan taruhan akan meninggalkan segala urusan bisnisnya. “Aku tetap menolak. Tapi kemudian kubilang, kalau kamu serius, ayo kita serius,” kata Johnny. Merasa mendapat angin, Laila kian menunjukkan kesungguhannya, antara lain dengan menikahi Johnny, dan menjadikannya mitra bisnis. Johnny pun bertindak sebagai manajer, dan menunjuk kawannya, Roger Mayweather sebagai pelatih.

Keluarganya sendiri kaget dengan keputusan Laila. “Kamu terlalu cantik untuk bertinju. Mendingan kamu tetap jadi model, keponakan cantikku,” kata Rahman Ali, adik Muhammad Ali. Sang bapak juga bersikap sama. “Saya menolak keputusannya, sebab wanita dilarang bertinju dalam Islam. Tapi dia bersikukuh, dan saya hanya berharap dia tidak terluka. Dia bilang, Daddy, saya tidak mau merepotkanmu, jadi jangan khawatir dengan keputusanku,” kata Ali.

Laila membuktikan ambisinya. Pertama kali naik ring, Oktober 1999, ia langsung menggebrak dengan menganvaskan lawannya, April Fowler, hanya dalam waktu 31 detik di ronde pertama. Laila mendapat sorotan luas media massa, dan tentu saja hari-hari selanjutnya setelah kemenangan spektakulernya. “Bahkan ayahku pun tak pernah mendapat sorotan semeriah ini ketika pertama kali naik ring,” kata Laila bangga.

Kemenangan demi kemenangan diraih petinju yang terkenal dengan gerakan lincah kakinya – seperti “tarian” kaki sang bapak, dan jab-jabnya yang keras. Laila pun menjadi magnet, karena memiliki banyak kelebihan: petinju handal, model berwajah cantik, dan anak Muhammad Ali. Wajahnya menghiasi sampul majalah-majalah terkenal dan sejumlah acara televisi. Lebih lagi menjelang pertarungannya dengan Jacqui Frazier Lyde, Juni 2001, memperingati 30 tahun pertarungan ayah mereka, Ali dan Joe Frazier. Rating berbagai acara televisi yang menampilkan wajah Laila menaik tajam, termasuk rating Friday Night Fight stasiun olahraga ESPN. Dalam pertarungan, Laila menang angka, meskipun tipis.

Hubungan Buruk

Boleh jadi, seperti diprediski Nigel Collins, pemimpin redaksi majalah Ring, sebagaimana bapaknya, Laila Ali bakal menjadi “The Greatest” di ring tinju wanita. Namun hubungan antar Ali dan puteri bungsunya dari isteri ketiga, Veronica Porsche Anderson, sebetulnya tidaklah sebaik yang diduga orang – malah jauh lebih buruk. Ali dan Veronica bercerai ketika Laila berumur 8 tahun. Laila kemudian tinggal bersama ibunya di Malibu.

Dalam biograpinya, Reach! Finding Strength, Spirit and Personal Power yang diluncurkan akhir tahun lalu, Laila mengungkap bahwa ayahnya boleh saja dianggap hero oleh jutaan orang, tapi ia gagal mengurus anaknya. Ali yang dijuluki “penyambung lidah” warga Lousville, menurut Laila, adalah sosok yang cuma memperhatikan diri sendiri. Sering, misalnya, ketika Ali dan anak-anak pergi ke restoran, masjid atau perayaan, lantas ngeloyor begitu saja dan meninggalkan keluarganya.

Sebagai anak, Laila kerap merasa sendirian, dan karena itu ingin hengkang dari rumahnya sejak usia 4 tahun. Ali tak pernah menanyakan, apalagi berdiskusi tentang persoalan yang dihadapi Laila. Makanya Laila sangat merasa terisolasi ketika mengalami pelecehan seksual oleh tetangganya, pada usia 5 tahun, dan terulang lagi pada usia 10 tahun. “Aku bingung, harus bilang siapa,” tulis Laila.

Karena kecewa terhadap Ali, saat itu Laila pun merasa diasingkan agama yang dianut bapaknya. Laila lantas membenci sembahyang, masjid, bacaan-bacaan yang tak dipahaminya, dan keimanan yang diragukannya, terutama ketika melihat wanita yang harus shalat berjamaah di belakang lelaki. Persisnya, dalam bukunya Laila mengungkapkan, tiadanya kasih sayang bapak, menjadi akar buruknya kehidupan masa remajanya.

Laila pun menjadi anak badung. Satu peristiwa yang menyadarkannya adalah ketika ia mendekam di penjara anak-anak selama tiga bulan, setelah ketahuan mencuri barang dagangan di sebuah toko, tahun 1993. Selepas dari tahanan, ia bergabung dengan kelompok terapi, dan mulai membangun kembali hidupnya yang sempat awut-awutan.

Dalam bukunya yang ditulis David Ritz, Laila menggambarkan berbagai pengalaman pahitnya, dan bagaimana ia mendapatkan kembali hidupnya melalui jalan yang berliku – yang disebutnya sebagai “kearifan jalanan”. Laila kemudian menyuguhkan sejumlah formula penyembuhan psikologis, emosi dan mental, terutama bagaimana ia membebaskan diri dari rasa minder dan sifat gampang menyerah.

Kini Laila selalu positif memandang hidupnya, juga bapaknya. Bahkan ia kerap menyanjung dan menggambarkan Muhammad Ali sebagai sosok yang selalu menyemangati orang lain, terutama kalangan negro, untuk berbuat sesuatu yang positif. “Dia mengajariku bagaimana membangun rasa percaya diri, dan dia selalu membuat orang tertawa,” kata Laila.

Ada pun Johnny, Laila menganggapnya sebagai lelaki yang sangat inspiring, dalam karir maupun rumahtangga. Selain membesarkan bisnis salon kecantikannya, keduanya kini memiliki sasana Absoloot Boxing. Bahkan bersama ibu mertuanya, Nisaa Seifullah, Laila juga rajin menjalani aktivitas kemanusiaan, khususnya membina anak-anak kurang mampu. Misi kemanusiannya diwadahi Absoloot Awareness Foundation.

Walhasil, si anak badung itu kini sudah mendapatkan segalanya, tentu saja melalui kerja keras dan perjalanan melelalahkan nan berliku. Ia tidak lagi merokok, apalagi menenggak alkohol. “Jika Anda punya keinginan, apalagi menjadi juara dunia, tentu harus bekerja lebih keras dari yang lain. Anda harus punya komitmen dan berkorban. Jika hal itu mudah, tentu setiap orang bisa menjadi juara dunia. Nyatanya tidak,” kata Laila.

Muna Galbia Maulida
Insani-16, Agustus 2003

0 Comments:

Post a Comment

<< Home