GEBI

Dunia Yang Berserak

Wednesday, June 01, 2005

Dengan Cinta Menggoyang Amerika

Demi sebuah gitar, pada usia 12 tahun ia melego sepedanya di Pasar Baghdad. 30 tahun kemudian, setelah melewati dua perang teluk dan berpindah-pindah negara, Kazem Al-Sahir menjadi penyanyi papan atas dunia, yang syair-syair cintanya membuat jutaan wanita mabuk kepayang. Sambil mengusung pesan-pesan perdamaian, publik Amerika pun digoyangnya.

“Di saat kritis seperti ini, sangat penting untuk menunjukkan sisi lain wajah Irak kepada dunia, terutama publik Amerika, ketika mereka hanya berpikir soal perang. Di Irak juga banyak artis, penyair, filosof, penulis dan selebritis yang sangat kreatif dan berbudaya. Irak tak seperti yang Anda saksikan di televisi.”

Dengan mimik serius, Kazem Al-Saher mengucapkan kata-kata itu, menyelingi lagu-lagu yang didendangkannya dalam pentas keliling di 5 kota besar Amerika, yang berlangsung sejak 28 Februari lalu. Layaknya duta besar perdamaian, Kazem mencoba meyakinkan publik Amerika soal kejamnya dampak perang, seperti yang pernah dirasakannya bersama jutaan anak-anak dan warga sipil Irak tak berdosa.

“Semua yang Anda saksikan di televisi adalah hal buruk, soal perang, senjata pemusnah massal, pembunuhan, dan pemboman. Kita butuh sesuatu yang mencerahkan, biar sedikit lebih rileks dan merasakan secercah harapan,” kata Kazem. Ia membuai mood penonton, dengan berimprovisasi di tengah lagu yang dilantunkannya, meskipun tindakannya kerap menyusahkan 15 musisi Arab Amerika dan backing vokal yang mengiringinya. “Kuharap tak ada perang, dan semua orang hidup dalam damai, bekerja seperti biasa, menikmati kebebasannya,” ujar Kazim lagi.

Saat Presiden George W. Bush kian garang menabuh genderang perang terhadap Irak, sebetulnya bukan hal gampang menghadirkan Kazem ke Amerika. “Mendatangkan penyanyi asal Irak ke Amerika adalah tugas tersulit di dunia,” kata Brian Taylor Goldstein, pengacara yang mengurus visa Kazem. Meskipun Kazem memiliki paspor Kanada, tapi tetap saja visanya ditandai V3, yang menunjukkan bahwa dia bukan artis berkebangsaan Barat.

Begitupun, berkat kerja keras sang sponsor, Radio & TV Orient, Kazem diijinkan menggoyang publik Amerika di New York, Chicago, Detroit, Las Vegas dan California. Konsernya sukses besar. “Waktu bilang aku mau menyaksikan penyanyi Irak, ibuku terperanjat. Tapi kuyakinkan dia bahwa Kazem adalah vokalis yang mengusung pesan-pesan perdamaian, dan ini momen penting untuk menontonnya,” kata Leigh-Ann Hahn, presenter musik dunia yang jauh-jauh terbang ke Los Angeles untuk menonton pentas Kazem.


Balada Cinta

Kazem adalah vokalis yang berhasil mengisi kekosongan kiprah musisi Arab di pentas dunia, sejak wafatnya “Bintang Timur” asal Mesir, Ummi Kaltsum tahun 1970-an. Albumnya terjual lebih 30 juta kopi. Penggemarnya yang sangat fanatik, terutama kalangan wanita, tak cuma penduduk kawasan Arab, tapi menyebar hingga Eropa dan Amerika. Salah satu hitsnya, Ana wa Layla (Aku dan Laila), menempati posisi ke-6 dari 10 lagu favorit dunia yang dijaring BBC World Service poll, mengungguli lagu Believe Cher yang bertengger di posisi ke-8.

Di antara penggemar lagu-lagu Kazem, adalah dua pemenang Grammy Award, Charlos Santana dan vokalis soprano Sarah Brightman. Santana dipertemukan dua pekan usai Kazem pentas di Berkeley. Sedangkan Sarah akan berduet dengan Kazem, melantunkan lagu The War is Over. Video klipnya digarap musim semi ini, dan beredar musim panas mendatang. Secara terpisah, lagu tersebut juga akan dirilis dalam album terbaru Sarah dan Kazem, akhir 2003.

Kazem lahir di Mosul, Irak Utara, 1959. Ayahnya seorang tentara kerajaan, yang kemudian bekerja di toko furnitur dan memboyong keluarganya ke Baghdad. Kesulitan ekonomi mendorong sembilan anaknya (Kazem anak ketujuh) untuk ikut bekerja. “Aku tumbuh di masa sulit, tapi dalam tradisi budaya yang sangat kaya,” kata Kazem.

Di usia belia, kecintaannya pada musik dan puisi tumbuh. Suatu hari, saat umurnya 12 tahun, ia melego sepedanya di pasar Baghdad, demi sebuah gitar. Ia melahap bacaan musik romans klasik Arab, yang dikenal dengan Maqamat, yang berkembang di Baghdad sejak masa Dinasti Abbasiyah. Kazem kerap melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam beragam variasi lagu, untuk mengolah vokalnya.

Pada umur 13 tahun, Kazem tak cuma menuliskan surat-surat cinta untuk pacar kakaknya, tapi juga mencipta lagu berdasarkan karya klasik, untuk pacarnya sendiri. Bakatnya kian terasah setelah ia belajar di Institut Musik Baghdad yang sangat prestisius, selama 6 tahun. Sambil menulis lagu untuk sejumlah vokalis Irak, Kazem terus berlatih menyanyikan sendiri lagu-lagu ciptaannya.

Debutnya berawal ketika pertama kali muncul di televisi, 1987, melantunkan karyanya, Laghdat al-Hayya (Gigitan Ular). Tapi pemerintah Irak kemudian melarang peredarannya, lantaran lirik-lirik satirnya dianggap provokatif dan menebar ketakutan, di tengah kecamuk perang Irak-Iran yang hampir berakhir. Namanya mulai dikenal lewat lagunya Abar al-Shatt (Kuseberangi Samudera), 1988. Dan kini, 13 tahun kemudian, dengan 10 album yang dirilisnya, Kazem menjadi legenda musik Arab, menggantikan popularitas Ummi Kaltsum.

Berbeda dengan aliran musisi Arab lain yang lebih “modern”, Kazem memadukan unsur qasidah, opera dan musik tradisional klasik lain dalam lagu-lagunya. Kemampuannya mengaransir sendiri lagu-lagunya, memberinya peluang untuk mengekspresikan emosi dan nuansa yang menggaet hati penggemar. Dan tentu saja, syair-syair cinta, balada dan romans klasik yang diciptakannya, adalah ciri khasnya, yang membuat kaum hawa mabuk kepayang. Ana wa Layla, misalnya, mengisahkan tragi cinta Qays dan Laila, versi Arab dari Romeo & Juliet.

Lirik-lirik nan puitisnya kian matang setelah Kazem berkenalan dengan penyair terbesar Suriah, Nizar Qabbani, penulis sejumlah syair yang dilantunkan Ummi Kaltsum. “Syair-syairnya sangat mempengaruhiku sejak aku kecil. Aku baru bisa memahaminya secara sempurna pada usia 14 tahun,” kata Kazem.

Simaklah sebagian lirik dari hitsnya, Al-Hub al-Mustahil (Cinta yang Tak Mungkin), yang ditulis Kazem bersama Qabbani: Kucinta kamu setengah mati, dan kutahu jalan untuk mencintaimu sangatlah berliku. Engkaulah wanita paling sempurna, dan tak ada pilihan lain kecuali mencintaimu.

Tapi dalam kehidupan rumah tangga, Kazem bukanlah lelaki yang sempurna. Ia menceraikan isteri yang juga sepupunya sendiri, yang kini hidup bersama dua anaknya, Wessam (18) dan Amr (14) di Kanada. “Hidupku tak stabil, berpindah dari satu hotel ke hotel lain, dari bandara ke studio. Secara profesional aku bahagia, tapi secara personal tidak,” kata Kazem dengan wajah penuh penyesalan.

Korban Perang

Wajarlah jika Kazem sangat membenci perang. Ia adalah korban dari dua perang Teluk yang membuat karirnya sempat terseok. “Tak ada listrik dan minyak. Aku harus bersepeda tiga jam untuk menemui kawanku. Tapi saat itulah aku mencipta karya terbaikku,” katanya menggambarkan getirnya akibat invasi tentara sekutu ke Irak, 1990.

Selama operasi pengeboman, ia meletakkan seluruh karya musiknya di bagian lain rumahnya, jauh dari tempat ia sembunyi. Di dalam bungkusan karyanya ia menuliskan pesan, meminta siapa pun yang menemukan karyanya untuk merilisnya. “Biar salah satu dari aku atau karyaku bisa bertahan hidup, jika rumahku kejatuhan bom,” kata Kazem serius.

Menyusul penerapan sanksi embargo atas Irak, karir Kazem kian tak karuan, padahal banyak sekali fansnya yang merindukan kehadirannya. Itulah yang mendorongnya meninggalkan Irak, tahun 1995, melanglangbuana mulai dari Beirut, Amman, Paris, Dubai, Kairo hingga Toronto, Kanada. Di empat kota terakhir Kazem memiliki rumah sendiri, tapi kini ia lebih banyak tinggal di Mesir, negeri yang memberi kebebasan ekspresi bagi para seniman.

Kazem selalu menghindari bicara politik, apalagi menyangkut urusan dalam negerinya. “Aku tak suka membahasnya. Tanyalah aku soal kemanusiaan, dan tugas-tugasku membantu warga dan anak-anak negeriku,” katanya. Apa yang akan dikatakannya jika bertemu presiden Bush? “Pikirkan anak-anak dan orang-orang tak berdosa. Jangan biarkan mereka menderita,” katanya lagi. Tapi ketika ditanya soal Saddam Hussein, Kazem cuma tersenyum sambil mengalihkan pandangan ke lantai.

Begitu pun, beberapa lirik lagu Kazem tak luput dari sentuhan politik. Lagu Salamtak Min al-Ah (Moga Terhindar Dari Derita), berkisah soal derita negerinya pasca serangan tentara sekutu. Atau Tadzakkar (Ingatlah!), berkisah soal anak-anak yang sekarat di jalanan Baghdad. Ah Ya Arab (Duh, Arab) dan Jaffat Dama’irkum (Kesadaranmu Telah Layu), mengutuk sikap pasif negara-negara Arab atas derita anak-anak Irak.

Kazem pernah diisukan sangat dekat dengan rezim Irak, dan karena itu kelompok oposan di luar negeri menjulukinya “agen Baghdad”. Tapi menurut sejumlah kawannya, Kazem memang harus bersikap respek terhadap rezim Baghdad sambil menjaga jarak. Sebab masih banyak keluarganya yang tinggal di sana. “Dia tak bisa memutus hubungan itu. Dan karenanya siapa pun warga Irak di luar negeri, harus bersikap baik kepada rezim Irak,” kata Lena Mazloum, sahabat Kazem.

Di tengah ancaman perang yang kian mendekat, ibunya yang sempat menemani Kazem tinggal di Kairo, kembali ke Baghdad, untuk menemani keluarganya di masa-masa sulit. “Terlalu banyak kepedihan dan tragedi di Irak. Aku selalu mencoba tak melupakan negeriku, di mana pun berada. Aku tak mau memasuki dunia politik, tapi takkan melupakan anak-anak negeriku yang menderita. Siapa yang salah atau benar, aku tak tahu,” kata Kazem. Akankah ia kembali ke Baghdad? “Ya, tentu saja. Lebih lima tahun kutinggalkan Baghdad. Suatu saat, insyaallah, aku akan kembali.”

Muna Galbia Maulida
Insani-12, April 2003

0 Comments:

Post a Comment

<< Home