GEBI

Dunia Yang Berserak

Saturday, October 30, 2004

Membenci Taliban Berbuah Islam

Kisah wartawati Inggris Yvonne Ridley menambah daftar non muslim yang awalnya membenci Islam, kemudian malah memeluknya.

Setidaknya dua kali Yvonne Ridley mengejutkan dunia. Pada 28 September 2001, ketika ketegangan di Afganistan kian memuncak, dan Amerika bersama sekutunya bersiap diri menggelar invasi militer ke negeri Mullah Muhammad Umar, wartawati tabloid Inggris Sunday Express ini disandera Taliban di Kama, sebuah desa kecil sekitar 5 mil dari Jalalabad, Afganistan. Yvonne yang mengenakan burqa - penutup wajah wanita Afganistan dan menunggang keledai, ditangkap bersama guide dan penerjemahnya.

Dunia pun terkejut. Sebagian media mengecam aksi penyanderaan, dan sebagian lain menuding Yvonne bertindak gegabah di tengah suasana genting, membahayakan nyawa dirinya dan guide-nya, dan meletupkan perpecahan diplomasi internasional. Tapi sepuluh hari kemudian, atau beberapa hari sebelum Amerika menyerang Afganistan, Taliban melepas Yvonne tanpa syarat, atas perintah langsung pemimpin spiritual Mullah Umar.

Kejutan kedua datang akhir Agustus lalu. Yvonne secara terbuka mendeklarasikan niatnya untuk memeluk Islam. Dunia pun kembali tercengang. Sambutan hangat segera datang, khususnya dari negeri-negeri Islam. Namun sikap sebaliknya muncul dari musuh Taliban, dan media Barat yang selama ini mendiskreditkan kelompok yang dituding sebagai penyokong utama jaringan Al-Qaidah itu. Kawan-kawan Yvonne menganggapnya terjangkiti Stockholm syndrome, yakni "penyakit" yang biasa diidap sejumlah mantan sandera yang kemudian malah jatuh cinta kepada penyanderanya, atau ideologi mereka (lihat: Cinta di Sarang Penyamun).

Kejutan kedua memang lebih menghebohkan ketimbang yang pertama. Yvonne yang sudah kenyang meliput berbagai kawasan konflik, diutus Sunday Express ke perbatasan Pakistan-Afganistan, beberapa hari usai tragedi 11 September, segera setelah Amerika menudingkan telunjuknya kepada Usamah bin Ladin dan rezim Taliban sebagai penanggungjawab serangan.

Talenta wartawati kelahiran Inggris 43 tahun lalu ini mendorongnya masuk ke wilayah Afganistan. Ia ingin melihat lebih dekat bagaimana brutalnya pemerintahan Taliban - yang disebut Presiden Bush sebagai rezim syetan. Dan dorongan utamanya adalah untuk membuktikan image yang kerap mangkal di benaknya sendiri, bahwa pria Taliban sangat membelenggu dan meminggirkan wanita. "Aku tak punya agenda politik, aku hanyalah reporter," kata Yvonne kepada The Observer.

Dipandu penerjemah, Hamid, dan pengawal keamanan, Munir Abdullah, Yvonne memasuki Afganistan secara ilegal, tanpa paspor dan visa. Untuk menyamarkan identitas, ia mengenakan burqa layaknya wanita Afgan. Tapi penyamarannya ketahuan juga. Di desa Kama yang sepi, tentara Taliban mengarahkan moncong senjata, dan memaksanya turun dari punggung keledai. Entah darimana asalnya, tiba-tiba kerumunan lelaki berjenggot tebal mengitarinya. Yvonne pun diangkut mobil pick up tua.

Tentara Taliban menuduhnya sebagai mata-mata Amerika. "Aku langsung berpikir, tak mungkin lagi bisa melihat matahari. Kecurigaanku kepada Taliban membuatku berkali-kali yakin bakal dicambuk atau dieksekusi. Itulah yang membuatku kehilangan kendali, marah, memaki-maki - sesuatu yang tak mungkin dilakukan para sandera pengidap Stockholm syndrome," kata Yvonne. Eh, bukannya siksaan atau hukuman mati. Kaum Taliban malah tersenyum mendengar makian Yvonne. "Mereka bilang, aku adalah tamu dan saudari mereka," kata Yvonne lagi.
Tentu Yvonne terkejut. Dan selama menjalani hari-hari penawanannya, kejutan demi kejutan kembali berulang, yang kian menggerogoti habis dugaan buruknya selama ini terhadap kaum Taliban. Itulah yang mendorongnya untuk selalu memuji Taliban - kelompok penculiknya, usai kehadirannya kembali ke "dunia bebas", meskipun dengan tindakannya, ia harus melawan arus besar perspektif media, pengamat dan pemerintahan Barat.

Keterpesonaannya terhadap Afganistan, mendorongnya kembali kesana, Mei lalu, ketika negeri ini telah ambruk dibombardir Amerika. Kali ini Yvonne membawa puterinya yang berumur 9 tahun, Daisy. Di Kabul ia sempat bertemu dengan anggota Taliban dan Al-Qaidah, serta tiga orang mantan penculiknya. Mereka memuji sikap Yvonne yang berani mengungkap realitas Taliban kepada dunia Barat. "Aku sangat ingin menemui Mullah Muhammad Umar yang memerintahkan pembebasanku," kata Yvonne. Tentu saja harapannya tak terkabul.
Usai lawatannya yang kedua, Yvonne mengaku terkejut dan bersedih, menyaksikan kenyataan Afganistan yang lebih buruk ketimbang di jaman rezim Taliban. Keamanan tak terkendali, angka kriminalitas membengkak, perpecahan antar faksi berkecamuk, dan lebih menyedihkan lagi, ratusan ribu warga Afgan kehilangan pekerjaan. Belum lagi jutaan warga yang mengungsi karena perang. "Desa Kama pun tak lagi berbentuk karena bombardir Amerika," kata Yvonne kepada Islam Online.

Klaim Amerika dan negara Barat untuk membantu pemulihan dan pembangunan Afganistan, menurut Yvonne, cuma kata-kata. Ia malah menuduh Amerika sebagai penyebab kesengsaraan Afganistan. "Bahkan aku merasa sangat beruntung ditangkap Taliban. Lihatlah nasib 5 warga Inggris yang ditangkap tentara Amerika, sungguh mengerikan. Rasanya susah untuk membedakan antara serdadu dengan teroris," kata Yvonne.

Cahaya Islam

Puncak dari keterpesonaan Yvonne terhadap Taliban, kini mengejawantah dengan niatnya segera memeluk Islam - meskipun ia belum mengungkap kapan saat ikrar resmi syahadat tiba (lihat pengakuan Yvonne kepada The Muslim News dalam: Perjalanan Menggapai Islam). Meskipun mantan suaminya (ayah Daisy), Daoud Zaaroura seorang muslim, tak banyak yang diketahui Yvonne tentang Islam. "Yang kutahu dari Islam hanyalah mitos tentang pembelengguan wanita, kekerasan, dan sikap fanatik," katanya. Daoud, yang dinikahinya di Syprus, adalah mantan tentara pembebasan Palestina, dan kini menjabat direktur eksekutif Nothern England Refugee Service. Selain Daoud, Yvonne pernah menikah dengan dua lelaki lain.

Yvonne yang menjadi jurnalis sejak usia 19 tahun (1977), dan berpindah-pindah tempat kerja, mulai dari Daily Mirror, Independent, The Observer, Sunday Times, hingga Sunday Express, kerap bersentuhan dengan komunitas muslim, termasuk ketika meliput Perang Teluk. Namun ia tak menemukan "impresi". Boleh jadi, lantaran ketika mendatangi wilayah lain muslim, Yvonne tak memiliki stigma buruk seperti ketika hendak mengunjungi kaum Taliban.

Yvonne berharap, umat Islam tak perlu kecut dengan stigma buruk media dan pemerintahan Barat terhadap mereka, khususnya pasca peristiwa 11 September 2001. "Tetaplah bangga dengan identitas keislaman Anda. Jangan sekali-kali menyamarkan kepercayaan Anda, semata untuk menjilat mereka. Waspadalah dengan kekuatan yang pura-pura berada di pihakmu dan akan membantu kepentingan Anda. Bukankah yang paling mengesankan dari Islam adalah, Anda tak perlu perantara untuk berhubungan atau meminta pertolongan Tuhan?"

Muna Galbia Maulida

BOX:
Perjalanan Menggapai Islam

Benar, perjalananku menuju Islam bermula di penjara Afganistan. Masih terngiang dalam ingatan, hari itu penerjemahku, Hamid, sambil menyerahkan baju kurung pengantin, bilang bahwa aku adalah tamu penting dan terhormat Taliban. Hatiku tersanjung, samabil kukenakan baju pemberian Taliban. Tak lama masuklah seorang lelaki bergamis dan bersorban serba putih ke ruang tahananku. Dari caranya bersikap, aku tahu dia seorang pemuka agama. Dia menanyakan status keagamaanku - Protestan, pandanganku terhadap Islam, dan menawarkan dengan santun kemungkinanku memeluk Islam.

Sungguh menakutkan. Selama lima hari aku telah menghindar bicara soal agama di negara yang kata Presiden George W. Bush dipimpin para ekstrimis. Jika aku memberi jawaban salah - lagi-lagi kata sahabat-sahabat Baratku, aku akan dilempari batu hingga mati. Setelah berpikir panjang, aku berterima kasih atas tawaran itu, namun kubilang sulit bagiku untuk mengambil sebuah keputusan penting dalam hidup sedangkan aku di penjara. Tapi aku berjanji, jika dilepas dan kembali ke London, aku akan belajar Islam. Karena jawaban itulah, aku dipindahkan ke sebuah penjara kumuh di Kabul, disatukan bersama enam tahanan wanita lain beragama Protestan yang juga pernah ditawari masuk Islam.

Waktu kecil, aku dididik ajaran Yesus, bergabung dalam paduan suara gereja, dan belajar di sekolah Kristen. Belakangan, citra ekstrimitas Kristen yang kurasakan sama seperti bayanganku tentang ekstrimitas kaum Taliban. Masih jelas teringat ketika suatu malam aku duduk di lapangan penjara, tiba-tiba telinga kiriku menangkap suara hymne gereja, sementara telinga kananku mendengar suara azan. Aku terperangkap di antara dua jepitan ajaran kaum fundamentalis. Ketika malam kian larut dan bintang-gemintang bersinar terang, aku seperti terjebak dalam cengkraman alam semesta, yang menghendakiku segera menentukan sikap.

Beberapa hari kemudian aku dibebaskan tanpa syarat, atas perintah langsung Mullah Muhammad Umar, pemimpin spiritual Taliban yang bermata satu. Selama dalam penjara, kaum Taliban memperlakukanku dengan ramah dan rasa hormat, meskipun aku kerap memaki mereka. Jika rasa lapar menerjangku, kala waktu makan tiba, mereka selalu mengambilkan air kobokan untuk membasuh tanganku. Mereka juga rajin shalat lima waktu, tak peduli apapun yang terjadi. Sebagai imbalan rasa salutku pada mereka, kupenuhi janjiku untuk mendalami agama mereka.

Itulah niatku pada awalnya, dan caraku mempelajari Islam sama seperti cara akademisi non muslim mendalami agama Muhammad. Tapi baru beberapa halaman kubaca, aku sungguh terpikat, dan makin tergoda untuk mendalami kalimat demi kalimat. Kudatangi sejumlah tokoh cendekiawan muslim, seperti Dr. Zaki Badawi dan Syekh Abu Hamzah Al-Masri yang sebelumnya pernah kutemui dalam sebuah debat keagamaan di Universitas Oxford.

Aku juga mengaji kepada Dr. Muhammad Al-Massari, dan mendapat pencerahan setelah berdiskusi dengan tiga wanita anggota Hizbuttahrir. Referensi terpenting tentu kutemukan dari internet, khususnya ketika chatting dengan para netter muslim di situs New Muslim Project, yang juga memberiku akses untuk berdiskusi bersama kawan-kawan senasib yang tengah berjalan menuju Islam. Mereka sangat mendukung dan bersahabat, namun yang mengejutkan, tak seorang pun menekanku memeluk Islam.

Tapi sejumlah media Barat kemudian menuduhku membuka madrasah untuk rekrutmen anggota Al-Qaidah di apartemenku di Soho. Namaku juga tiba-tiba masuk dalam website "Watch on Terror" di Amerika, yang membuatku digolongkan dalam daftar pelaku subversif oleh sejumlah agen intelijen Amerika.

Peristiwa yang kian memuakkanku adalah ketika Maret lalu tentara Israel mengepung dan menembaki gereja tempat kelahiran Yesus, Church of Nativity. Tak satu pun pemimpin gereja - kecuali Paus, yang mengecam tindakan Israel. Bahkan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang taat beragama dan bangga jika keluarganya diidentikkan dengan kesalehan, diam saja. Aku sangat shock, sedih dan merasa sendirian. Lalu kupikir, kenapa aku harus memikirkannya sedangkan para pemimpin spiritual dan pemerintahan pun tak peduli. Sedangkan dengan Islam, aku bisa bicara lantang, dan langsung tanpa perlu perantara pemimpin spritual. Kepada Tuhanpun aku bisa berhubungan langsung kapanpun kumau.

Berbeda dengan saudara sesama muslim, tekanan justru datang dari kerabat dan kawan-kawan jurnalis yang sinis dan melontarkan kritik atas niatku memeluk Islam. Kata mereka, agama apapun akan menyusahkanku, sedangkan dengan Islam, akan lebih buruk lagi kondisiku. Mereka mengiraku masuk ajaran syetan, ahli sihir, atau semacam sekte Ku Klux Klan. Yang lain lagi menganggapku menjalani pencucian otak, yang membuatku tak lama lagi mengenakan burqa -- kain penutup ala perempuan Afganistan, dan membisu selamanya seperti wanita muslim lain.

Namun semua itu omong kosong. Tak pernah kutemui kelompok wanita yang sangat terpelajar, cerdas, berbicara lantang dan sangat melek politik melebihi kelompok wanita Muslim Inggris. Memang benar, masih banyak wanita muslim yang terbelakang, akibat "pembajakan" kultural atau kesalahan interpretasi terhadap ajaran Al-Qur’an. Padahal Kitab Suci Islam ini, setahuku, mensejajarkan kedudukan pria dan wanita dalam keberagamaan, pendidikan, kesempatan kerja dan tanggungjawab sosial. Kalau aku diberi kesempatan lagi mengunjungi Afganistan, tema kesejajaran inilah yang akan kukumandangkan pada kaum pria di sana.

Muna Galbia Maulida
Insani-6, Oktober 2002

0 Comments:

Post a Comment

<< Home