GEBI

Dunia Yang Berserak

Tuesday, December 19, 2006

Bulan Sabit Di Puncak Eiffel



Seratus tahun sepeninggal Nabi, pasukan Islam di bawah kendali Thariq bin Ziyad berhasil mencapai Afrika Utara. Mereka kemudian menyeberangi selat Gibraltar (Jabal Thariq) menuju Eropa. Tak lama, kekuasaan Visighot di Spanyol pun jatuh. Juga wilayah utara Pyrenees, yang dihuni bangsa Frank, suku asal Jerman, leluhur bangsa Prancis modern. Bangsa Frank diperintah Charles Martel, kakek Charlemagne, penguasa terbesar Frank.

Melalui Pyrenees, prajurit Islam masuk ke Prancis, menguasai sejumlah kawasan dekat Paris. Di Tours, meletuslah peperangan besar dengan Charles Martel dan pasukannya. Pasukan Frank menang, dan prajurit muslim tak pernah lagi serius bereskpansi ke perbatasan Prancis-Spanyol ini. Peperangan Tours sangat penting dalam sejarah Islam. Sebab, sejarah dan wajah Eropa Barat tentu akan lain, andaikan saat itu prajurit Islam menang.

Kini, 1.300 tahun kemudian, keturunan dari sebagian prajurit Islam yang kalah di Tours kembali muncul, dan mencoba memutar balik rekaman sejarah. Bukan dengan peperangan, tapi dengan cara damai, melalui proses imigrasi. Sejak 1960-an, muslim Afrika Utara berbondong-bondong hijrah ke Prancis, kebanyakan mereka berasal dari bekas koloni Prancis – Maroko, Tunisia dan terutama Aljazair.

Dari sekitar 60 juta penduduk Prancis, kini jumlah muslim mencapai 4 juta jiwa, dan 3 juta di antaranya adalah imigran (lain lagi estimasi Departemen dalam negeri, yakni setengah dari 4 juta muslim adalah penduduk asli Prancis). Data ini menunjukkan bahwa Islam telah jauh meninggalkan Protestan dan Yahudi, dan kini menduduki posisi agama kedua setelah Katolik. Bandingkan dengan warga Yahudi yang cuma 500 ribu jiwa.

Islam bahkan bisa dibilang menjadi agama utama di Prancis, jika merujuk penelitian sejarawan Alain Besancon. Menurut Besancon, jumlah rata-rata orang yang pergi ke Gereja di Prancis kurang dari 5 persen, sedangkan muslim yang pergi ke masjid dan mempraktekkan agamanya, jauh lebih banyak. Simaklah tulisan Le Monde tahun 1994, yang mencatat 27 persen muslim mengimani sekaligus mempraktekkan ajaran agamanya.

Diperkirakan, 30 tahun mendatang populasi muslim Prancis bakal mencapai 10 juta jiwa. Tentu dengan sejumlah alasan. Pertama, meskipun angka rata-rata kelahiran wanita Prancis tergolong paling tinggi di Eropa Barat, yakni 1,3 persen, namun angka rata-rata kelahiran wanita muslim imigran lebih besar tiga atau empat kali lipat.

Sebutlah, misalnya, angka rata-rata kelahiran imigran asal Aljazair yang mencapai 4,4 persen (1981), dan 3,5 persen (1990). Pada dua tahun itu rata-rata kelahiran imigran asal Maroko mencapai 5,8 persen dan 3,5 persen, dan imigran asal Tunisia 5,1 persen dan 4,2 persen. Penurunan angka kelahiran di kalangan imigran muslim memang berpengaruh terhadap menurunnya pertumbuhan penduduk Prancis, namun tidak signifikan.

Dengan perbedaan rata-arat angka kelahiran itu, berarti pula bahwa sepertiga dari generasi baru yang lahir antara 1970-1990 di sejumlah kota Prancis, adalah penduduk muslim. Alasan yang kedua, tentu saja, karena arus imigrasi ke Prancis dari negara-negara muslim itu, kini masih berlangsung, meskipun jumlahnya jauh berkurang.

Kampung Islam

Beberapa kawasan di Prancis kini tampak seperti sebuah negara muslim. Salah satunya adalah La Bricarde, serumpun kampung muslim berpenghasilan rendah yang menempati apartemen yang dibangun awal 1970-an, di pinggiran utara kota Marseille. Ini merupakan bagian dari perkampungan Bricarde-Castellane-Plan d’Aou, yang dihuni 8.300 penduduk termiskin Prancis, dan di sinilah Zinedine Zidane dibesarkan.

Seperempat dari 800 ribu warga Marseille adalah muslim, dan La Bricarde merupakan campuran antara eksotisme Afrika Utara dan “dekadensi” Timur. Antena parabola bertebaran di berbagai puncak apartemen, layaknya taburan kancing di baju pesta. Di antara 700 apartemen di La Bricarde, terdapat 200 antena parabola, untuk menangkap siaran televisi dari Afrika. Dari kawasan itu Prancis memang hanya mengembangkan sebuah jaringan televisi kabel di Eropa Barat. Akibatnya siaran televisi Aljazair tak bisa ditangkap, kecuali dengan antena parabola.

“Masa depan kota ini berada di utara Marseille,” kata Didier Bonnet, Direktur Regie Services Nord Littoral, sebuah LSM bentukan tahun 1988, yang melayani proyek perumahan di kawasan utara Marseille. Didier sebetulnya memiliki sejumlah klien di pusat kota, tapi La Bricarde menjadi perhatian utamanya.

Juliette Minces, sosiolog yang mendalami studi wanita muslim, melaporkan bahwa proses “etnisasi” di La Bricarde berlangsung gencar. Warganya mengidentikkan diri dengan berbagai kelompok etnis, seperti Sinegal dan Aljazair, model yang dikenal di sejumlah kawasan Amerika yang identik dengan kampung Negro dan Hispanik (imigran asal Spanyol) pada era 1950 hingga 1970-an.

Mayoritas penghuni perumahan Marseille adalah muslim, yang kebanyakan berasal dari kawasan “Maghrib” – Maroko, Aljazair, Tunisia, di Afrika Utara. Jumlah mereka mencapai 60 persen, dan sisanya, 25 persen adalah beurs (sapaan Prancis untuk imigran Arab), dan 10 persen adalah warga kulit hitam. Hanya 25 keluarga kulit putih tinggal di sini.

Etnisitas dan Pengangguran

Kedatangan para imigran muslim bukannya tak bermasalah. Mereka rata-rata memiliki pendidikan dan ketrampilan rendah, dan karenanya terkenal sangat miskin dibanding penduduk asli Prancis. Mereka hanya mampu menghuni kawasan-kawasan kumuh dan terbelakang yang disubsidi pemerintah, misalnya – selain Marseille, di Rhone-Alpes dan Lille-Roubaix-Tourcoing. Selain pengangguran, penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang juga menjadi problem serius yang menghadang imigran muslim. Problem yang dihadapi muslim Prancis, dan pada umumnya di Eropa, memang lebih getir ketimbang yang dihadapi muslim Amerika.

Bangsa Prancis pada umumnya memiliki pandangan khusus tentang identitas mereka, dan kebanggaan mendalam terhadap budaya setempat. “Keprancisan” sangat identik dengan penerimaan secara penuh terhadap budaya Prancis. Kebanggaan itu bisa dimaklumi, lantaran sejak abad ke-17 hingga ke-19, kebudayaan Prancis pernah mendominasi budaya Eropa. Tentu saja, persoalan ini juga menjadi tantangan serius bagi imigran muslim. Persoalan etnisitas pun menjadi kajian penting pemerintahan Prancis – negara yang pada prinsipnya sesungguhnya mengagungkan persamaan hak.

Claude Bertrand, seorang Kepala Staf Walikota Marseille berasumsi bahwa problem etnisitas akan terpecahkan secara alami, terutama akibat pengaruh media televisi. Para peneliti juga menganggap bahwa dengan penayangan televisi Amerika dan media-media global, akan membantu proses asimilasi bagi pendatang baru. Problem etnis di Prancis akan terpecahkan, dengan saling meleburkan kultur masing-masing, baik warga asli maupun pendatang.

Namun ada pandangan lain. Problem Prancis sebetulnya bukan etnisitas, melainkan jomplangnya tingkatan kelas dalam masyarakat. Maka sosiolog Marseille, Michel Peraldi, menganggap bahwa penyediaan lapangan kerja merupakan solusi paling tepat untuk memecahkan problem ini. Kini, di Marseille yang mayoritas penduduknya muslim, pegawai pemerintahan menempati posisi paling tinggi pekerjaan penduduk, yakni 14 ribu orang. Posisi kedua adalah pegawai kotapraja, sebanyak 12 ribu orang.

Problem yang tak kalah seriusnya adalah soal identitas keislaman. Prancis yang menganut sistem sekuler (pemisahan agama dan negara), tentu menghadapkan kendala-kendala tertentu bagi hak-hak keberagamaan para muslim. Soal persediaan makanan halal misalnya, atau hak mengenakan jilbab bagi muslimah di ruang-ruang publik, termasuk di sekolah, kerap mewarnai tarik ulur ketegangan antara komunitas muslim dengan pemerintah.

Kepedulian Keluarga Hagoug

Nassera Benmaria dan suaminya, Nouredine Hagoug -- pasangan kelahiran Prancis berdarah Aljazair, termasuk yang paling serius mencari solusi bagi sejumlah problem komunitas muslim, tak semata dengan memberi uang atau mencarikan kontrakan murah. Organisasi Persatuan Keluarga Muslim yang dibentuknya, bermarkas di dekat katedral Marseille, lebih memusatkan perhatian pada kesejahteraan, nilai-nilai budaya dan kerjasama informal, ketimbang pada aktivitas politik.

Pasangan Hagoug adalah muslim yang taat, yang melatih anak-anaknya berbicara dan menulis Arab, sefasih berbahasa Prancis. Benmaria adalah lulusan sekolah Katolik, namun ia berniat menyekolahkan dua anaknya di Sekolah Islam Prancis, jika mampu. Dan Benmaria tak sendirian. Penelitian Harris pada 1995 menunjukkan, 76 persen muslim Prancis lebih memilih pendidikan anaknya di sekolah agama yang disupervisi negara. Sayang, kini kesempatan memilih sekolah agama hanya tersedia bagi pemeluk Katolik, Protestan dan Yahudi.

Seperti pasangan Hagoug, muslim Prancis hidup di bawah undang-undang 1905 yang memisahkan agama dan negara, yang merupakan ekses dari Dreyfus affair. Undang-undang itu melarang negara mendanai institusi keagamaan. Bahkan dalam perjalannya, undang-undang itu ditafsirkan secara kaku, dan muncullah anggapan bahwa “tidak beragama” adalah agama resmi negara.

Persoalannya, sebelum undang-undang itu muncul, institusi keagamaan Katolik, Protestan dan Yahudi, telah lama menikmati bantuan dari negara, berbentuk bangunan ibadah dan aset lain. Bahkan hingga kini, secara diam-diam ketiga agama itu tetap menerima bantuan, mengatasnamakan bantuan bidang kebudayaan.

Sedangkan muslim Prancis tidak memiliki aset itu. Islam juga tidak mengakui hirarki institusi kepemimpinan sebagaimana gereja Katolik, yang memungkinkan mengucurnya dana dari “pusat kekuasaan” agama. Muslim Prancis yang datang dari berbagai negara, pun tak memiliki dukungan finansial seperti halnya warga Yahudi yang kerap dikucuri dana dari Israel atau negara-negara pendukungnya. Hanya sejumlah negara muslim kaya yang peduli, namun tak berarti saban waktu bantuan mengucur.

Akibatnya, meskipun dalam praktek keberagamaan, muslim Prancis menduduki posisi terdepan, hasil survey berikut dari CNRS Strasbourg cukup memilukan. Simaklah: 45 juta umat Katolik Prancis memiliki 40 ribu katedral, gereja dan kapel. 900 ribu penganut Kristen Protestan memiliki 957 gedung peribadatan, dan 500 ribu warga Yahudi memiliki 82 sinagog. Sedangkan 4 juta muslim, hanya memiliki 1.600 masjid, yang banyak di antaranya hanya berupa kamar atau ruangan kecil di sudut kantor atau rumah. Di Dinas Ketentaraan Prancis, ada pendeta Katolik dan Protestan, atau Rabi Yahudi, namun tidak ada “kiyai” muslim.

Begitulah problem yang dihadapi pasangan Hagoug, dan muslim Prancis secara umum, di tengah perkembangan pesat Islam di puncak Menara Eifel.

Muna Galbia Maulida
Insani II, Juni 2002

Sentuhan Midas Abdul Karim Metsu


Pertandingan perdelapan final Piala Dunia antara Sinegal dan Swedia, membuat jalan-jalan di seluruh Afrika sepi. Semua mata memelototi layar kaca, di rumah, di perkantoran, di pasar, dan pinggir jalan. Begitu gol emas Henri Camara merobek gawang Swedia pada menit ke-14 babak perpanjangan waktu, suasana berubah total. Jalanan benua Afrika riuh rendah, lebih “hidup” dibanding hari-hari biasa.

“Semua orang berteriak, semua warga senang,” ujar Robert Loufimpou, sopir taksi di jalanan Brazzaville, ibukota Kongo. Warga Brazzaville seperti melupakan insiden tragis seminggu sebelumnya, yang menewaskan lebih seratus orang akibat kontak senjata, menyusul perang saudara berkepanjangan yang berkecamuk di tengah kota.

Di Mesir, warga berpesta dengan meneriakkan ucapan mabruk (selamat, sukses!). Mereka melupakan kekalahan negerinya dari tim Singa Teranga Sinegal di babak kualifikasi, yang membuat Mesir urung “berpesta” di Piala Dunia. “Mereka pantas menang, dan terus melaju mewakili Afrika ke final,” kata Adel El-Hussaini, insinyur yang menyaksikan pertandingan ini di café jalanan Kairo. Di rumah, isteri Adel juga telah menyiapkan sharbat, minuman khas untuk pesta kemenangan malam hari.

Menjelang pertandingan, pelatih Bruno Metsu memang mewanti-wanti para pemainnya, bahwa mereka bertanding untuk Afrika, bukan Sinegal. Dan itulah yang kian melecut semangat para pemain bertanding habis-habisan, pantang menyerah, meskipun Henrik Larsson di menit ke-11 babak pertama sudah lebih dulu melesakkan bola ke gawang Sinegal.

Di Dakar, ibukota Sinegal, pesta kemenangan tentu lebih semarak. Jalanan yang berdebu tertutup warna merah, emas dan hijau – kostum Sinegal. Banyak pula warga yang mengusung foto marabout, guru spiritual yang sangat dihormati di negeri ini. “Semalam guru saya bilang, siapkan pesta, karena Sinegal akan menang,” kata Bockar Seck, mahasiswa sebuah perguruan Dakar.

Pesta juga berlangsung di halaman istana kepresidenan. Presiden Abdoulaye Wade kembali menyempatkan diri berbaur bersama ribuan warganya. Ketika Sinegal menumbangkan juara bertahan Perancis 1-0 pada pembukaan Piala Dunia di Seoul, Wade melakukan hal yang sama, dan berujar, “Usai menjungkalkan juara dunia, Singa Teranga boleh pulang kampung. Tapi tentu saya meminta mereka tetap bertahan, terus melaju bersama bendera Afrika.” Menaklukkan juara dunia, sekaligus negeri yang pernah menjajah Sinegal selama lebih 300 tahun, tentu sangat berarti bagi sang Presiden.

Berkat Abdul Karim

Amukan Singa Teranga yang baru bisa ditaklukkan di perempat final oleh tim yang lebih berpengalaman, Turki, karuan saja membelalakkan dunia sepakbola. Sebelumnya, tim dari sebuah negara kecil Afrika yang penduduknya cuma 10 juta jiwa itu, dipandang sebelah mata. Baru pertama kali bertanding di Piala Dunia, Sinegal dianggap hanya sebagai “pelengkap”. Para pengamat pun menempatkannya di bawah Jepang dan Korea Selatan, atau tentu saja Nigeria dan Kamerun.

Dengan materi pemain yang kebanyakan mengadu nasib di Perancis, Sinegal dianggap sebagai kesebelasan Perancis kelas tiga. Jangankan di Piala Dunia, di ajang Piala Afrika pun tak pernah mengukir sejarah. Prestasi paling puncak pernah diraih Sinegal dengan beberapa kali menjuarai Piala Amilcar Cabral, kejuaraan sepak bola di kawasan Afrika Barat.

Dan semuanya berubah setelah Sinegal ditangani pelatih asal Perancis, Bruno Metsu (48 tahun). Sentuhan lelaki berwajah flamboyan yang kemudian masuk Islam dan mengganti nama menjadi Tawny Abdul Karim ini, mampu mengangkat semangat para pemain yang sebelumnya enggan bergabung dalam tim nasional, sebagai protes atas Peter Schnittger, pelatih asal Jerman yang menangani tim Sinegal dengan memaksakan pendekatan militeristik.

Mengikat kontrak Oktober 2000, Abdul Karim dan Sinegal berhasil menyisihkan Aljazair, dan dua tim yang pernah tampil di Piala Dunia, Mesir dan Marokko, di babak kualifikasi. Abdul Karim juga sukses membawa Sinegal ke final Piala Afrika, Februari 2002. Padahal, selama enam kali bertanding di kejuaraan ini, Sinegal tak pernah lolos ke semi final sekali pun. Sayang, di final, Singa Teranga kandas di tangan Kamerun dalam babak adu pinalti. Begitupun, Federasi Sepakbola Afrika menobatkan Abdul Karim sebagai pelatih terbaik 2001 “Benua Hitam” Afrika.

Skeptisisme terhadap kehadiran Abdul Karim di Sinegal, persis seperti keraguan para pengamat terhadap Sinegal menjelang penampilannya di Piala Dunia. Lebih 30 tahun berkarir, Abdul Karim bukanlah pemain dan pelatih terkenal. Ia penah bermain di klub papan bawah Perancis dan Belgia seperti Dunkerque, Nice, Lille dan Anderlecht. Sejak 1988, ia menangani klub kelas dua Perancis, Beauvais, kemudian Lille, Valenciennes, Sedan, dan Valence. Sebelum menangani Sinegal, Abdul Karim sempat menangani negara kecil Afrika, Guinea, selama enam bulan.

“Ketika tiba di Sinegal, tak ada yang mengenal Metsu,” kata Jules Francois Bocande, asisten pelatih yang juga mantan pemain nasional Sinegal. Semua orang meragukan Abdul Karim Metsu mampu menangani tim nasional yang terpuruk selama beberapa dekade, lebih lagi setelah tim ini ditangani Schnittger dari Jerman.

Abdul Karim juga mengakuinya. Pertama kali tiba di Sinegal, menurutnya, sama seperti pertama kali menangani klub Sedan. Semua orang menganggapnya sebagai extraterrestrial (makhluk asing dari luar angkasa). “Mestinya, sebelum menilai seseorang, beri dia waktu untuk bekerja. Tapi biarlah, toh semua pun kemudian tahu apa yang telah saya perbuat,” katanya.

Filosofi Abdul Karim

Nyatanya, dalam waktu singkat Abdul Karim berhasil menggaet simpati para pemain dan ofisial tim Sinegal. Bukan dengan pendekatan hirarkis dan militeristik a la Schnittger, melainkan dengan pola keterbukaan dan saling menyayangi. Kepada para pemain, berkali-kali Abdul Karim menegaskan, “aku bukan polisi, tapi pelatih. Dan kalian bebas mengekspresikan apa saja.”

Dengan pendekatan itu, Abdul Karim berkeliling ke sejumlah klub papan bawah Perancis, dan berhasil membawa pulang para pemain yang sebelumnya enggan bergabung di tim nasional. Dalam menumbuhkan motivasi, disiplin dan tanggungjawab, Abdul Karim tak pernah melepaskan suasana rileks, senda gurau, dan kekeluargaan. Apa pun persoalan yang dihadapi, selalu dipecahkan bersama. “Tidak ada yang rumit dalam sepakbola. Anda tinggal menyerang saat menguasai bola, dan bertahan ketika kehilangan bola. Anda harus membuat pemain menyukai permainannya,” kata Abdul Karim.

Empati dan human interest. Itulah yang dirasakan asisten pelatih Bocande, dan para pemain Sinegal, dari keperibadian Abdul Karim. Dan empati itulah yang hilang dari pelatih Sinegal selama dekade keterpurukannya. “Bukan soal skill, melainkan mentalitas, solidaritas dan rasa kebersamaan, yang hilang selama saya jadi pemain nasional. Metsu berhasil menumbuhkannya,” kata Bocande. Henri Camara, penentu kemenangan Sinegal atas Swedia, juga mengakuinya. “Dialah pelatih yang tahu bagaimana menjadi teman sejati para pemain, bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri,” ujarnya.

Melalui layar kaca, para penggila bola di seluruh dunia pun akhirnya tahu, betapa gambaran Abdul Karim di pinggir lapangan membenarkan pengakuan Bocande dan Camara. Berbeda dengan para pelatih tim lain yang tegang, serius, dan kerap berteriak dalam balutan stelan jas dan dasi, tampilan Abdul Karim sangat santai. Dengan T-shirt dan rambut panjangnya yang tergerai, sosoknya lebih layak sebagai seniman. Ia mengingatkan kita pada sosok pemusik rock Jim Morisson.

Terhadap rambut panjangnya, seorang wartawan pernah berkelakar dalam jumpa pers usai kemenangan Sinegal atas Perancis. “Apa hubungan kemenangan ini dengan rambut panjang Anda,” tanya wartawan. “Rambut saya tidak lebih panjang dari kemenangan yang akan dicapai para pemain,” jawab Abdul Karim, rileks, sambil menggeraikan rambut ikalnya.

Islam dan Pesona Afrika

Filosofi kepelatihan Abdul Karim sebenarnya kian tumbuh bersama keterpesonaannya terhadap benua Afrika. Lelaki yang lahir di kawasan selatan Perancis ini sangat takjub dengan budaya Afrika. “Ada suatu misteri, nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, persahabatan, sesuatu yang sudah hilang di Eropa,” katanya. Di Afrika, menurutnya, pintu selalu terbuka. Di Eropa, pemain hanya akan mendatangi pelatih saat punya masalah. Tapi Di Afrika, mereka akan mendatanginya kapanpun, untuk menyaksikan bagaimana sang pelatih bekerja. Pesona Afrika itu sangat menyentuh Abdul Karim. “Aku ini kulit putih berhati negro,” katanya bangga.

Boleh jadi, sentuhan nilai-nilai Afrika pula yang membuatnya masuk Islam, 24 Maret 2002. Asal tahu saja, lebih 90 persen penduduk Sinegal beragama Islam. Abdul Karim sendiri tak pernah mengungkap alasannya memeluk Islam. Namun, pada saat bersamaan, ia juga mengikrarkan pernikahannya dengan gadis jelita Sinegal, Rogaya Daba Ndiaye. Menurut harian lokal sinegal, Him Soleil, pesta pernikahannya berlangsung meriah dalam balutan tradisi setempat, dan Abdul Karim memberikan sebuah limosin mewah beserta uang tunai 6 ribu euro sebagai mas kawin.

Rogaya, bersama isteri para pemain Sinegal, selalu setia memberi semangat pada tim nasional saban bertanding. Berbeda dengan sejumlah pelatih yang melarang para pemainnya berhubungan seksual selama putaran Piala Dunia, Abdul Karim malah menempatkan para isteri di Hotel Hilton Seoul, tempat pemain dan ofisial Sinegal menginap.

Ke Timur Tengah

Usai mengukir prestasi di Piala Dunia, Abdul Karim kerap menegaskan bahwa konsentrasi timnya adalah menyiapkan diri merebut Piala Afrika. Namun belum berakhir kontraknya dengan Sinegal, Oktober 2003, sejumlah klub dan negara berebut meminangnya. Yang terakhir, dan ini hampir pasti, adalah klub Al-Ain, Uni Emirat Arab. Pertengahan Juli lalu, Abdul Karim sendiri sudah hadir di markas Al-Ain.

Di Sinegal, sejumlah pemain seperti Khalilou Fadiga, berkali-kali mendatangi Abdul Karim untuk mencegah kepindahannya. Inilah yang memberatkan hati Abdul Karim. Entah ia akan hijrah ke Timur Tengah dan meninggalkan Afrika bersama pesonanya, atau tetap di Sinegal untuk mengantar negeri ini ke puncak Piala Afrika, Abdul Karim hanya mengungkap sebuah pesan: “Biarkan orang menilai apa pun ketika pertama kali Anda datang untuk menangani sebuah tim. Cukuplah ketika Anda hendak meninggalkannya, semua orang mengenang prestasi yang pernah Anda ukir.”

Muna Galbia Maulida
Insani-4, Agustus 2002

Dari Pintu Tarekat Islam Berkibar



Pola adaptasi para guru spiritual terhadap nilai-nilai kearifan lokal, sangan efektif dalam menyebarkan Islam, dan membungkam laju Kristenisasi. Tapi ada saja yang menilainya sinkretik.


Langkah setengah juta pasang kaki mengepulkan debu di sepanjang jalan menuju Touba, yang berjarak 170 kilometer dari Dakar, ibukota Sinegal. Matahari sangat terik, dalam cuaca 42 derajat celcius. Di tengah rombongan, sejumlah lelaki berjubah koyak-moyak mengusung gada besar di pundak. Sekujur tubuh Mahmadou, mantan pesepakbola nasional, juga bermandi berkeringat. Telapak kakinya, seperti telapak kaki lainnya, berdarah-darah usai menempuh perjalanan puluhan kilometer. Mahmadou, dan beberapa lekaki lain dengan pakaian serupa, kemudian memukulkan gada ke punggung, tangan dan kaki dengan keras. Kenapa? “Demi surga dan marabout saya,” kata Mahmadou sambil berusaha tetap tersenyum.

Begitulah cara pengikut Bay Fall, salah satu aliran tarikat Muridiyah, mengekspresikan cinta kepada marabout (guru spiritual) mereka. Hari itu adalah haul kematian Syekh Amadou Bamba M’backe (1850-1927), yang mendirikan tarikat Muridiyah seabad lalu. Amadou Bamba, atau Ahmad bin Muhammad bin Habibullah, dan sering dijuluki Khadim ar-Rasul (pelayan Rasulullah), dimakamkan di Touba, dalam kompleks masjid yang sangat megah. Di sinilah bermarkas tarekat Muridiyah, yang pengikutnya menyebar hingga ke beberapa negara bagian Amerika Serikat.

Islam di Sinegal memang berwajah khas, dengan tradisi tarekat dan sufisme yang sangat kental, yang dalam prakteknya kerap beraroma sinkretik bersama “kearifan” lokal. Spiritualitas pemeluknya tumbuh dalam persaudaraan sufisme, yang sangat menghormati marabout. Guru spiritual inilah “wasilah” para pemeluk Islam dengan urusan kehidupan ukhrawi. Dan pada akhirnya, untuk urusan politik, ekonomi dan sosial pun, marabout lebih populer ketimbang para pemimpin formal. Marabout juga kerap mempengaruhi para pengikutnya untuk menyalurkan aspirasi politik ke partai tertentu.

Jangan heran jika berkunjung ke Sinegal, Anda menyaksikan foto atau kaligrafi ucapan marabout menghiasi dinding rumah, kantor, dan bahkan kendaraan umum. Saat pesta kemenangan tim Sinegal atas lawan-lawannya di Piala Dunia, misalnya, foto para marabout bertabur dalam warna hijau, merah dan emas – kostum Sinegal, di jalan raya. Untuk mengekspresikan ketaatan, banyak pula pengikut tarikat, utamanya dari aliran Bay Fall, yang mengabdikan diri dengan menggarap lahan keluarga guru spiritual mereka.

Adaptasi Islam Afrika

Pendekatan sufistik dalam penyebaran Islam nyatanya sangat efektif. Melalui tiga aliran besar tarekat -- Muridiyah, Tijaniyah dan Qadiriyah, Islam kini dipeluk hampir 95 persen dari sepuluh juta penduduk Sinegal. Padahal, pada awal abad ke-20, pemeluk Islam tak mencapai setengah dari penduduk negeri kawasan Afrika Barat ini – sebagian besar mereka beragama Kristen, animis dan ada segelintir Yahudi. Para pengamat pun mengakui, tarekat dan sufisme merupakan adaptasi Islam model Afrika Barat yang paling jitu untuk menangkal serangan gencar para missionaris Kristen di kawasan ini.

Islam masuk ke Sinegal sebelum abad ke-11, dan berkembang terutama setelah kerajaan Tukulor (kerajaan kecil di Sinegal) menerimanya sebagai agama negara. Mereka diislamkan oleh kelompok al-Murabithun dan pengikut tarekat Tijaniah. Gerakan Murabithun – dari kata ini kemudian muncul istilah marabout, kemudian menjadi sebuah dinasti yang memerintah hingga tahun 1147, berpusat di Marakesh, sebuah kota di Maroko.

Dalam perkembangannya, ketiga aliran tarekat (Tijaniyah, Qadiriyah dan Muridiyah), sangat berperan mengislamkan penduduk Sinegal dan kawasan sekitarnya. Ketiganya juga berperan dalam perjuangan rakyat Sinegal menghadapi koloni Portugis, Inggris, Belanda dan kemudian Perancis.

Tarekat Qadiriyah lahir di Bagdad, dan berkembang di Afrika melalui Mauritania. Tijaniyah didirikan Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Salim at-Tijani, di Maroko, dan dibawa ke Sinegal oleh El Hadji Omar Tall pada abad ke-19. Sedangkan Muridiyah didirikan Amadou Bamba M’backe pada akhir abad ke-19. Pada awalnya M’backe adalah penganut tarekat Qadiriyah, yang lebih menyukai hidup asketis, meditasi, sambil mengajarkan Al-Qur’an, ketimbang berhadapan dengan kaum kolonial. Terhadap kaum animis, sikap M’backe juga lebih toleran ketimbang para marabout dari tarekat Tijaniyah.

Sikapnya yang asketis justru membuat pengaruh M’backe kian menonjol di tengah warganya. Inilah yang mengkhawatirkan kolonial Perancis. M’backe akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Gabon (1895-1902), lalu Mauritania (1903-1907). Meskipun diasingkan, sosok M’backe tak pernah lekang dari pengikutnya, dan malah menyuburkan mitos seputar keistimewaannya.

Dikisahkan, misalnya, ketika tentara Perancis tak mengijinkannya shalat di atas kapal, borgol di tangan M’backe tiba-tiba lepas, dan ia loncat ke air lalu mengerjakan shalat di atasnya. Di kali lain, M’backe tak merasa sakit saat dimasukkan ke atas perapian, dan malah duduk tertawa sambil minum. Bahkan ketika dimasukkan ke kandang singa yang lapar, M’backe santai saja dan singa pun tertidur pulas.

Menyadari betapa kian tumbuh fanatisme pengikut M’backe, kolonial Perancis akhirnya mengubah sikap, dan menjadikannya sebagai asset, bukan lagi rintangan. M’backe dipulangkan, dan diijinkan membangun kota suci di Touba, markas tarekat Muridiyah. Sebagai imbalan, M’backe mengikrarkan persahabatan dengan Perancis. Tahun 1918 ia menerima bintang penghargaan dari pemerintah Perancis, atas jasanya membiarkan ratusan pengikutnya membela Perancis dalam Perang Dunia I. Tapi tetap saja, setelah M’backe wafat, para pengikutnya kembali melancarkan perlawanan terhadap pemerintah kolonial, hingga negeri ini mendapat kemerdekaannya pada 1960.

Kini, pengikut tarekat Muridiyah mencapai 40 hingga 45 persen penduduk muslim Sinegal, dan kebanyakan mereka adalah kaum muda belasan tahun. Sekitar 30 persen menganut tarekat Tijaniyah, dan sisanya berpencar dalam tarekat Qadiriyah dan beberapa sekte tarekat kecil, yang lebih konservatif.

Di negara yang didominasi partai sosialias ini, wajarlah jika kaum muda menyukai tarekat Muridiyah yang lebih terorganisir dan berdisiplin, baik dalam mobilisasi politik maupun kewirausahaan. Kini, jaringan sosial dan keagamaan Muridiyah telah mendunia. Juga jaringan ekonominya, telah menyentuh pasar komersial internasional. “Jaring laba-laba” mereka mampu mengontrol perdagangan Sinegal. Sektor informal di bawah bendera Sandaga, juga menguasai seluruh jaringan supermarket dan toko-toko kelontong sepanjang jalan raya Dakar.
Menara yang menjulang tinggi di masjid jami Touba, seperti mengisyaratkan cita-cita mereka untuk menjunjung satu dunia (bawol), satu ideologi dan sumber inspirasi: ajaran Muridyah, nilai sentral yang darinya memancar etos kerja, disiplin, sukses, dan ketaatan yang mutlak kepada marabout. Wallahu a’lam.

Muna Galbia Maulida
Insani-4, Agustus 2002

The End of Saddam Hussein?

Sosoknya fenomenal dan kontroversial, dipuji sekaligus dibenci. Kisah seputar dirinya mengalir, terutama dari pendukung setia yang kini menjadi lawan politiknya.


Saddam Hussein, pemimpin agung, keturunan langsung Nabi Muhammad, Presiden dan Perdana Menteri Irak, Ketua Dewan Komando Revolusi, Panglima Angkatan Perang, dan Bapak Bangsa. Ia selalu terjaga jam tiga pagi, setelah tidur paling lama empat atau lima jam. Ia kerap berpindah-pindah istana. Bahkan di tengah kian meningkatnya ancaman penggulingan kekuasaanya, Saddam tak pernah tidur di istana resminya. “Seorang tiran tentu tak boleh terlena, jika tak ingin kehilangan tahta,” ungkapan sinis ini ditulis Mark Bowden dalam bulanan The Atlantic.

Saban pagi Saddam rutin berenang. Di rumah dan 20 istananya terhampar kolam nan luas. Air adalah simbol kemakmuran dan kekuasaan di negara gurun seperti Irak. Dan Saddam melimpahkannya di segala penjuru – air mancur, kolam renang, sungai kecil atau air terjun buatan. Kolam renangnya dirawat cermat setiap saat, untuk menjaga temperatur, dan terutama menghindari kemungkinan masuknya racun mematikan yang dilarutkan para musuh dalam selimut.

Saddam punya persoalan dengan punggungnya -- agak membungkuk. Renang sangat membantu mengatasinya, di samping menjaga tubuhnya tetap segar dan sehat. Di usia 65 tahun, ia ingin selalu tampil kuat. Sebab, lemah berarti mengundang bahaya: kudeta – sesuatu yang sudah lumrah dalam sejarah jatuh bangunnya kepemimpinan Irak. Itulah yang mendorongnya giat bekerja, sambil menyembunyikan sesuatu, misalnya, dengan mengecat hitam ubannya. Ia juga menghindar memakai kacamata baca di depan publik. Saat berpidato, naskahnya tercetak tebal dan besar, hanya beberapa baris perlembar. Problem di punggung membuat jalannya agak pincang. Saddam pun enggan terlihat di depan publik, atau di layar kaca, berjalan lebih dari beberapa langkah.

Posturnya tinggi besar, sekitar enam kaki atau hampir dua meter – melampaui rata-rata tubuh bangsa Irak, dengan otot dan tangan yang kuat. Berat tubuhnya mencapai 220 pound, namun berkat kehandalan para perancang busananya, gelambir lemaknya nyaris tak tampak. Perut gendutnya baru terlihat saat berenang. Orang-orang dekatnya sangat mafhum jika Saddam kehilangan berat badan, berarti tengah dirundung krisis. Namun dalam waktu singkat bisa kembali normal, bila “segalanya beres”.

Dua kali seminggu, makanan segar -- udang laut, ikan dan daging berlemak, diimpor secara khusus. Setelah melalui pengujian laboratoris yang ketat, bahan makanan itu diracik koki handal asal Eropa, yang bekerja di bawah pengawasan al-Himaya, pengawal setia. Namun dibanding tubuhnya yang besar, Saddam tergolong sedikit makan, dan kerap menyisakan setengah santapannya di piring.

Terkadang ia makan malam di restoran elit Bagdad, tentu setelah tim pengawalnya memeriksa dengan ketat seluruh ruangan dan hidangan yang akan disantap. Saddam sangat mengapresiasi pola hidangan, lebih menyukai ikan ketimbang daging, banyak menyantap sayuran dan buah segar. Meskipun tak berlebihan, ia meneguk wine, khususnya merk Mateus rose. Tapi hanya famili atau orang-orang terpercaya yang bisa melihatnya minum. Sedangkan di depan publik, ia sangat menjaga sosoknya sebagai muslim yang taat.

Di pergelangan tangannya terdapat tatto biru tua, berbentuk tiga titik, peninggalan masa kecilnya. Tradisi suku di desa kelahirannya, Awja, Tikrit, menorehkan tatto tiga titik pada setiap anak lelaki berumur lima atau enam tahun. Tatto serupa untuk anak gadis, ditorehkan di dagu atau dahi – seperti yang dimiliki ibu Saddam. Tatto adalah pertanda anak desa. Mereka yang pindah ke kota dan kemudian menjadi orang terpandang, kerap menghilangkannya, atau menyamarkannya dengan bedak pemutih. Namun Saddam tak pernah menutupi tattonya, meskipun kini tak lagi nyata seiring dengan ketuaannya. Walaupun mengklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad, Saddam tak pernah menyamarkan muasalnya sebagai keturunan keluarga desa yang sederhana.

Saddam bekerja sepanjang hari di kantornya, yang dijaga ketat para pengawal setia. Ia rutin mengumpulkan para menteri dan komandan angkatan perang, berdiskusi dan mendengar opini mereka. Lalu mencuri waktu untuk tidur sebentar, atau mendadak meninggalkan ruang pertemuan untuk menyendiri di ruang sebelah, dan kembali dalam keadaan segar. Para menteri atau jenderalnya tentu harus selalu terjaga sepanjang waktu. Tahun 1986, saat masih berkecamuk perang Iran-Irak, Saddam pernah memergoki Letnan Jenderal Aladin al-Janabi tertidur dalam pertemuan. Ia kemudian mencopot pangkatnya, dan menendang al-Janabi dari dinas militer. Belakangan al-Janabi kembali ke posisinya, berkat kemurahan hati sang presiden.

Meja Saddam selalu rapi, dipenuhi laporan dari berbagai departemen. Ia hanya membaca ringkasannya, namun kerap memilih laporan untuk dibaca seksama. Tak ada yang tahu laporan mana yang akan diujinya. Jika detil laporan berbeda dengan ringkasan, atau Saddam kebingungan, menteri terkait dipanggil. Di hadapan menteri, Saddam sangat santun dan tenang, jarang bersuara nyaring. Ia sering pura-pura tak memahami persoalan, mulai dari masalah hasil pertanian hingga urusan nuklir. Namun jika menterinya tak menguasai masalah, pertemuan akan berakhir menakutkan lantaran amarah sang presiden.

Saddam juga kerap melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah departemen, laboratorium atau pabrik. Beberapa menterinya kadang berupaya menutupi realitas yang tak disukai Saddam. Lingkaran terdekatnya juga suka menyusun laporan yang “asal bapak senang”. Mereka menganggap Saddam terpesona. Padahal sang Presiden sangat hapal dengan tipudaya itu, dan segera menyingkirkan bawahan terkait.

Saddam sangat kutu buku. Bacaan apapun dilahapnya, terutama psikologi dan roman. Ia juga menyukai sejarah Arab dan militer, serta kisah tokoh-tokoh besar seperti Winston Churchill. Karya sastra sangat mempengaruhinya. Ia mempekerjakan sejumlah ghostwriter untuk menuliskan pidatonya, artikel, karya sejarah, filsafat dan fiksi.

Saddam telah menerbitkan dua hikayat roman, Zabibah wa al-Malik dan The Fortified Castle, sedangkan buku ketiganya berupa fiksi yang belum diberi judul, akan segera terbit. Sebelum terbit, Saddam mengirim naskahnya kepada sejumlah penulis ternama, meminta komentar dan koreksi. Tentu, meskipun menurut mereka karya Saddam sangat amatiran, tak ada yang berani terus terang, dan hanya memberi dukungan untuk sedikit diperbaiki. Dua karyanya tak diberi nama penulis – di sampulnya hanya disebutkan “Ditulis oleh Penulisnya”. Tapi rencananya, nama Saddam Hussein akan tertera di buku ketiga.

Saddam gemar nonton TV, memonitor siaran TV Irak, juga CNN, Sky, al-Jazeera dan BBC. Ia menyukai film, terutama yang bertema intrik, pembunuhan dan konspirasi, seperti The Day of the Jackal, The Conversation dan Enemy of the State. Karena jarang berkunjung ke luar negeri, film-film tersebut cukup mengilhaminya tentang dunia luar dan teori konspirasi kelompok yang akan melumat kekuasaannya. Ia juga menyukai film-film karya sastrawan, khususnya The Godfather karya Mario Puzo dan The Old Man and the Sea Ernest Hemingway.

Saddam bisa luwes dan memiliki selera humor yang tinggi. “Dia pencerita yang ulung, dengan gesture dan ekspresi muka yang mempesona,” kata Khidhir Hamzah, ilmuwan yang bekerja pada proyek senjata nuklir Irak sebelum lari ke Barat. “Sangat asyik duduk dan ngobrol dengannya. Ia bisa serius, dan pertemuan dengannya sangat bernuansa, bahkan Anda tak merasa diintimidasi kecuali ia ingin melakukannya. Jika minta opini Anda, ia akan mendengar dengan seksama dan tak pernah menyela. Sebaliknya, jika Anda menyela ucapannya, ia akan tersinggung, dan berucap, “biar kuselesaikan,” kata Jenderal Wafiq Samarai, Kepala Badan Intelijen Irak selama perang Iran-Irak. Pasca Perang Teluk 1991, Samarai berjalan kaki 30 jam menuju utara Irak, dan kabur ke luar negeri.

Hampir 40 tahun Saddam beristeri Sajida, anak pamannya, Khairallah Tulfah, mentor di awal karir politiknya. Beranak 2 putera dan 3 puteri, Saddam cukup setia, meski sempat diisukan berhubungan dengan sejumlah wanita. Media Barat bahkan menjulukinya sebagai Sultan Shahriar, tokoh dalam kisah Seribu Satu Malam yang kerap membunuh wanita teman kencannya. Tapi Samarai membantahnya. “Kisah perkosaan dan pembunuhan itu bohong belaka. Dia bukan tipe lelaki macam itu, dan sangat hati-hati bertindak. Dia memang punya hubungan dengan wanita lain, tapi yang diyakini tak akan mengumbar rahasia,” kata Samarai.

Saddam pada dasarnya penyendiri, dan kini kian terisolasi akibat kekuasaannya. Menurut Hamed al-Jubouri, mantan anggota Dewan Komando Revolusi yang kini tinggal di London, saat memotori pendirian Partai Baath, Saddam melibatkan kaum elit intelektual -- guru besar, pakar fisika, ekonom dan sejarawan ternama. Semua mendukung, karena melihat sosok Saddam yang mampu menyelamatkan Irak dari krisis. “Dia membangun kekuasaannya dengan mempesonakan semua orang, karena kapabilitas intelektual dan praksisnya. Tapi dua sisi itu kini lenyap,” kata al-Jubouri.

Apa terget Saddam? Bukan uang! Keluarganya boleh saja sangat rakus. Sajida, misalnya, bisa menghabiskan satu juta dolar sekali belanja di London atau New York, ketika hubungan Saddam dengan Inggris dan Amerika masih mesra. Atau putera sulungnya, Uday, boleh saja gonta-ganti mobil dan pakaian mewah. Tapi Saddam bukanlah hedonis. Ia lebih menyukai popularitas ketimbang duit. Sosoknya ingin selalu dikenang dan dipuja. Ia meluncurkan 19 volume biografi pemerintahannya yang menjadi bacaan wajib. Ia juga mengepalai proyek film 6 jam tentang hidupnya, The Long Day, editan Terence Young, sutradara 3 film James Bond. Kepada penulisnya Saddam kerap berujar, “aku tak peduli pada komentar rakyat Irak tentangku hari ini, melainkan pada komentar mereka 500 tahun mendatang.”

Tapi belum lagi umurnya 66 tahun, musuh Saddam makin meruyak dan menguat, di dalam maupun luar negeri. Tahun 1992, ketika George Bush gagal menjadi presiden kedua kalinya, Saddam merayakannya dengan menembakkan bedil dari balkon istananya. Kini, dari balik Gedung Putih, George Bush yunior bersama segenap kekuatan militer dan negara sekutunya, siap melumatkan Saddam, yang dianggap sebagai poros utama kejahatan dan terorisme.

“Saddam ingin berkuasa seumur hidup, tapi ini berat, bahkan tanpa tekanan dari Amerika sekali pun,” kata Samarai. Sebab, ungkap Samarai, bangsa Irak sangat heterogen, dan paling susah diatur. Saddam sendiri harus menumpahkan darah – bahkan darah menantunya sendiri, untuk mempertahankan kekuasaannya. Pembenci Saddam di Irak kian banyak, terutama setelah krisis berkepanjangan yang menyengsarakan mereka. Saddam memang kerap menuding sanksi PBB sebagai penyebabnya, tapi rakyat Irak pun balik menudingnya sebagai biang kerok jatuhnya sanksi itu. Negara-negara Arab pun makin menjauhinya, lebih lagi karena Amerika berupaya menyingkirkannya.

Menurut Sabah Khalifa Khodada, mantan mayor yang pernah dekat dengan sang Presiden, cara terbaik menggulingkan Saddam adalah dengan memunculkan tokoh alternatif, agar proses kudeta tak berdarah-darah. Bush menjadikan gagasan ini sebagai salah satu pilihan, dengan mendukung tindakan para jenderal pengkhianat Saddam membentuk “dewan penggulingan Saddam” di London. Namun Bush juga menyiapkan tindakan lain yang gemar dilakoni Amerika: serangan militer.

Akan berhasilkah? Belum tentu. Saddam sendiri tak gampang menyerah. Kekuasaan adalah hidupnya. Menggulingkannya berarti merenggut nyawanya. Dan Saddam sangat siap berjuang habis-habisan, tanpa kepanikan. Mungkin kisahnya akan berakhir seperti ending karyanya, Zabibah wa al-Malik – Zabibah dan sang Raja.


Kudeta dan Kudeta

Sejarah jatuh bangunnya kepemimpinan Irak diwarnai kudeta. Di masa dinasti Abbasiyah (750-1258) yang berpusat di Bagdad, kudeta sudah jamak. Juga dalam sejarah Irak modern.

25 April 1920: Irak berada di bawah mandat Inggris.
23 Agustus 1920: Faisal menjadi raja pertama Irak.
3 Oktober 1932: Irak merdeka penuh.
14 Juli 1958: Dinasti Hasyimiyah runtuh, dan Irak menjadi republik. Pemimpin kudeta, Abdul Karim Qasim, menjadi perdana menteri.
8 Februari 1963: Saddam terlibat dalam kudeta terhadap Qasim. Abdul Salam Muhammad Arif menjadi presiden.
17 April 1966: Arif tewas dalam kecelakaan helikopter, dan diganti kakaknya, Abdul Rahman Muhammad Arif.
17 Juli 1968: Arif dikudeta, Ahmad Hasan al-Bakr menjadi presiden.
16 Juli 1979: al-Bakr lengser, digantikan wakilnya, Saddam Hussein.

Muna Galbia Maulida
Insani-4, Agustus 2002

Semua Itu Bohong!


Inilah untuk pertama kalinya, sejak 12 tahun terakhir, Presiden Irak Saddam Hussein berbicara dalam sebuah wawancara khusus. Biasanya, untuk menanggapi berbagai isu atau tuduhan luar menyangkut kepemilikan senjata pemusnah massal dan keterkaitannya dengan aksi terorisme, Saddam berbicara melalui wakil-wakilnya. Sering juga ia berbicara di depan publik. Terakhir adalah pidato panjangnya saat memperingati 12 tahun peristiwa Umm al-Ma’arik (Perang Terbesar) -- orang luar menyebutnya Perang Teluk, 17 Januari lalu.

Adalah Tony Benn, mantan politisi senior Inggris yang berhasil menggelar wawancara itu, awal Februari lalu. Lelaki kelahiran London, 1925 ini, pernah menjabat sebagai menteri kabinet pada masa pemerintahan Wilson dan Callaghan, dan ketua Partai Buruh. Pemilik 7 gelar doktor honouris causa dari berbagai universitas di Inggris dan Amerika ini, tahun 1991 berkunjung ke Baghdad, bernegosiasi dengan Saddam untuk melepas sejumlah tawanan asal Eropa yang dijadikan sebagai perisai hidup di tempat-tempat penting yang bakal diserang tentara Amerika dan sekutunya.

Wawancara dengan Saddam berlangsung di kantornya dalam suasana santai, ditemani dua pengawal pribadi. Saddam sempat menolak ketika disodori pertanyaan tertulis, dan menghendaki pertanyaan spontan. Hasil wawancara Benn kemudian diperebutkan stasiun televisi raksasa di Inggris – BBC, ITV dan Channel 4. Stasiun Channel 4 akhirnya memenangkan hak siarnya. Berikut petikan wawancara dengan Saddam:

Tentu kesempatan ini sangat bersejarah, karena di luar sana jutaan orang menghendaki jalan damai dan menolak perang, demi alasan apapun.

Selamat datang di Baghdad. Anda sangat memahami peran bangsa Irak yang menghormati budaya, peradaban dan sejarah kemanusiaan mereka. Untuk tumbuh dan berkembang, peran mereka tentu harus ditopang suasana damai. Bangsa Irak punya komitmen terhadap hak mereka, dan hak orang lain. Tapi sekali lagi, tanpa suasana damai, mereka akan menghadapi kendala dalam memenuhi tugas kemanusiaannya.

Apakah Irak memiliki senjata pemusnah massal?

Mayoritas pejabat Irak bekerja lebih 34 tahun, dan mereka memiliki pengalaman berhubungan dengan dunia luar. Setiap yang berpikiran jernih pasti tahu, bahwa ketika seorang pejabat Irak mengatakan sesuatu, ia bisa dipercaya. Beberapa menit lalu Anda menyodorkan pertanyaan tertulis, tapi saya rasa tak perlu, karena buang-buang waktu saja. Anda bebas bertanya apa saja, secara langsung. Demikian pula jawaban saya.

Ini kesempatan bagi saya untuk menjangkau warga Inggris dan berbagai kelompok perdamaian dunia. Hanya ada satu kebenaran, dan saya ulangi apa yang pernah saya sampaikan sebelumnya dalam berbagai kesempatan: Irak tak punya senjata pemusnah massal, apa pun bentuknya. Kami menantang siapa pun yang mengklaim kami punya senjata itu, agar menunjukkan bukti yang bisa dihadirkan di hadapan publik.

Apakah Anda punya hubungan dengan Al-Qaidah?

Jika benar kami punya hubungan dengan mereka, tentu kami tidak akan malu-malu mengakuinya. Sekali lagi saya katakan pada Anda, dan pada siapapun yang ingin mengetahui ini: kami tak punya hubungan apa pun dengan Al-Qaidah.

Tim inspeksi senjata PBB mengaku menghadapi kendala. Apa saja kendala itu, dan akankah clear sebelum Hans Blix dan Mr. Al-Baradai kembali ke Baghdad?

Anda tahu, selalu ada kendala dalam setiap peristiwa besar. Mengenai tim inspeksi dan resolusi soal Irak, Anda harus menyimaknya lebih teliti, dan memiliki visi, apakah resolusi-resolusi itu sudah sesuai dengan standar hukum internasional.

Tapi tetap saja Dewan Keamanan PBB mengeluarkannya. Resolusi ini – dilaksanakan atau tidak, dan berbagai motivasi di balik perancangannya, akan mempengaruhi situasi sekarang, menuju damai atau perang. Ini situasi kritis.

Ingatlah beban derita akibat ketidakadilan yang ditanggung warga Irak. Sejak 13 tahun pelaksanaan embargo, yang berakibat pada langkanya pangan, obat-obatan dan berbagai kebutuhan hidup lainnya, tak terhitung lagi bencana yang menimpa mereka, terutama anak-anak dan kalangan usia lanjut. Kami menghadapi situasi kritis.

Karena itu, tidak heran jika muncul keluhan menyangkut beberapa rincian persoalan kecil dari sudut pandang tim inspeksi PBB, padahal mungkin saja itu menjadi isu sensitif dari sisi kepentingan kami. Jadi bisa saja warga Irak yang terlibat dalam proses kerja tim inspeksi, mengeluhkan sejumlah tindakan beberapa anggota tim. Atau bisa juga beberapa pengawas senjata, karena sebuah alasan atau prosedur, atau karena motif lain, mengeluhkan sikap Irak. Tapi siapa pun yang berpikir jernih pasti tahu, sejauh menyangkut resolusi 1441, Irak telah mematuhi seluruh kewajibannya.

Ketika Irak mengajukan keberatan dengan sejumlah rumusan implementasi resolusi Dewan Keamanan, bukan berarti kami ingin berkonfrontasi. Irak tak punya kepentingan dengan perang. Para pejabat, apalagi warga sipil Irak, tak pernah menunjukkan keinginan untuk pergi berperang. Pertanyaan justru harus diajukan kepada pihak lain (Amerika, red.): apakah mereka mencari dalih yang bisa menjustifikasi perang melawan Irak?

Jika tujuannya hanya untuk meyakinkan bahwa Irak tak memiliki senjata nuklir, kimia dan biologis, mereka bisa melakukannya. Senjata macam itu tentu bentuknya tidak sebesar pil yang bisa Anda sembunyikan dalam saku. Senjata pemusnah massal sangat gampang ditemukan jika Irak benar-benar memilikinya. Kami sudah bilang berkali-kali, dan kini kami ulangi, Irak tak memiliki senjata macam itu.

Jadi, ketika Irak keberatan dengan sejumlah tindakan dari anggota tim inspeksi, bukan berarti kami ingin menghalangi mereka menemukan kebenaran. Justru kami sangat berkepentingan memfasilitasi misi mereka menemukan kebenaran. Apakah pihak lain bertujuan sama, ataukah mereka mau mencari dalih yang bisa membenarkan tindakan agresi?

Kalau mereka lebih suka tindakan agresi, begitulah upaya yang ingin mereka capai. Negara super power bisa menciptakan dalih untuk mengklaim bahwa Irak tak melaksanakan resolusi 1441. Mereka juga pernah mengklaim bahwa Irak tak melaksanakan sejumlah resolusi. Padahal, waktu bertahun-tahun telah membuktikan bahwa Irak melaksanakan secara penuh semua resolusi itu. Kenapa mereka kini ngotot dengan resolusi baru, tanpa melihat resolusi-resolusi sebelumnya?

Menyangkut hubungan Irak dan PBB serta prospek damai. Dengan segala kelemahan dan kendalanya, adakah jalan bagi PBB untuk mencapai sasaran yang menguntungkan kemanusiaan?

Anda bisa melihatnya dalam piagam PBB. Anda tahu, Irak adalah salah satu pendiri dan penandatangan pertama piagam tersebut. Jika kita mengamati dua negara super power, yang juga anggota tetap Dewan Keamanan – Amerika dan Inggris, tindakan dan bahasa mereka nyata sekali lebih didorong keinginan untuk berperang, ketimbang rasa tanggungjawab untuk berdamai.

Ketika mereka bicara soal perdamaian, mereka justru menuduh pihak yang ingin diserang, atas nama perdamaian. Mereka mengklaimnya sebagai cara untuk menjaga kepentingan rakyatnya. Anda tahu, semua itu bohong. Dunia akan menghormati prinsip damai mereka, jika secara murni – dan bukan dengan standar ganda, mereka melaksanakannya. Ini bukan soal kekuasaan, melainkan soal benar atau salah, soal bagaimana kita mendasarkan kemanusiaan kita demi kebaikan, dan bagaimana kita menghormati prinsip itu. Tentu sangat gampang untuk mematuhi prinsip itu, dan siapa pun yang melanggarnya, akan menghadapi hujatan publik.

Banyak yang bilang, konflik ini adalah soal minyak.

Berbicara soal minyak, kami adalah bagian dari dunia yang saling terkait dalam berbagai aspek kehidupan -- ekonomi, sosial, teknologi, sains, dan banyak lagi. Tampaknya para penguasa Amerika sangat berambisi untuk melakukan agresi sejak lebih dari satu dekade lalu ke wilayah kami.

Faktor utamanya adalah karena peran tokoh-tokoh berpengaruh dalam mengambil keputusan, dipegang oleh presiden Amerika yang sangat dikendalikan kaum zionis. Padahal mereka telah mengorbankan bangsa Palestina dan hak asasi kemanusiaan. Mereka menekan pemerintahan Amerika dengan mengklaim bahwa negara-negara Arab menjadi ancaman berat bagi Israel, tanpa mengingat betapa jutaan warga Palestina telah terusir dari tanah leluhurnya.

Pemerintah Amerika akhirnya menempuh cara memusuhi bangsa di kawasan ini, termasuk bangsa kami, Irak, karena kami bagian dari mereka. Kaum zionis itu, dan pihak berkepentingan lain, mendorong pemerintahan Amerika, terutama pemerintahan kini (George W. Bush, red.), bahwa jika Anda ingin menguasai dunia, Anda harus menguasai minyaknya. Karena itu, menghancurkan Irak hanyalah batu loncatan untuk menguasai minyaknya. Itu berarti penghancuran identitas nasional Irak, bangsa yang telah memiliki komitmen terhadap prinsip dan hak asasi manusia, berdasarkan tatanan hukum internasional dan piagam PBB.

Seruan ini telah disampaikan kepada para pejabat pemerintahan Amerika, khususnya yang sekarang, bahwa jika Anda menguasai minyak Timur Tengah, Anda bisa menguasai dunia. Mereka akan mendikte Cina yang ekonominya sedang tumbuh, dan mencampuri sistem pendidikannya. Hal yang sama akan dilakukan terhadap Jerman, Prancis, bahkan mungkin Rusia dan Jepang. Mereka juga akan melakukannya terhadap Inggris, jika cadangan minyaknya tak mampu mememuhi konsumsi domestik.

Menurut saya, permusuhan seperti ini adalah model yang dikembangkan pemerintahan Amerika sekarang, demi melancarkan ambisinya untuk mengontrol dunia, dan mencengkramkan hegemoninya. Orang-orang punya hak untuk bicara, bahwa jika agresi Amerika terus berlangsung, maka rasa benci dan perlawanan akan semakin meluas. Kami ingin mengembangkan ladang dan industri minyak. Karena itu kami menciptakan kerjasama dengan dunia lain, sebagai anggota keluarga manusia yang dilanda perang, kehancuran dan kematian.

Beralasankah untuk bertanya, bahwa pandangan (kaum zionis, red.) ini bakal merugikan siapa pun, termasuk Amerika dan warganya? Untuk jangka pendek mungkin saja menguntungkan kepentingan mereka yang berpengaruh dalam kekuasaan pemerintah Amerika. Tapi untuk jangka panjang, kami yakin itu tak bakal menguntungkan kepentingan warga Amerika dan bangsa lain.

Ada jutaan, termasuk warga Amerika, Inggris dan Eropa menghendaki cara damai. Mereka, termasuk saya, selalu mengingat masa depan anak-anak kita. Adakah pesan Anda untuk kelompok pecinta damai itu?

Kami memuji gerakan kelompok perdamaian yang berlangsung beberapa tahun terakhir. Semoga Tuhan memberi kekuatan bagi mereka yang bekerja untuk menolak perang, atas nama perdamaian untuk semua. Tolong Anda sampaikan, bahwa kami bangsa Irak tak pernah membenci warga Inggris.

Sebelum tahun 1991, Irak dan Inggris menjalin hubungan normal, sebagaimana dengan Amerika. Saat itu pemerintah Inggris tak punya alasan untuk mengkritik Irak, seperti yang dilakukan beberapa tokohnya sekarang. Kami harap warga Inggris bicara kepada mereka yang membenci warga Irak dan menghendaki kehancuran kami, bahwa tak satu pun dalih yang bisa membenarkan perang. Tolong sampaikan, bahwa warga Inggris adalah bangsa yang pemberani, sebagaimana bangsa Irak.

Katakan kepada mereka, jika Irak diserang dan dihinakan, warganya akan berjuang dengan gagah berani, sebagaimana warga Inggris melakukannya pada Perang Dunia II. Kami akan mempertahankan negeri kami sebagaimana warga Inggris melakukannya. Warga Irak tak menghendaki perang, tapi jika mereka diserang dan dinistakan, mereka akan membela diri. Mereka akan membela kedaulatan dan keamanan negerinya. Kami tak akan mengecewakan mereka yang menghormati prinsip keadilan dan hak asasi manusia, seperti yang kami hormati.

MGM

Dimuat dalam buku Bush Vs. Saddam: Sampai Tetes Minyak Terakhir (Edisi Khusus Islamic Digest Insani April 2003)

Galang Rakyat Irak, Bukan Amerika!



Said K. Aburish adalah wartawan dan penulis yang telah menerbitkan sejumlah buku, termasuk Saddam Hussein: The Politics of Revenge. Pernah menjadi makelar bisnis senjata pemerintah Irak dan negara-negara Barat, lalu staf proyek rahasia pembuatan senjata kimia dan bom atom, Aburish akhirnya menjadi orang kepercayaan Saddam Hussein. Belakangan ia hengkang ke luar Irak. Dalam wawancara panjang dengan Frontline, Aburish mengungkap strategi paling efektif untuk mengenyahkan Saddam:

Apa rahasia sukses Saddam mengontrol kekuasaannya?

Ia memelihara aparat keamanannya, dengan lebih enam elemen, seperti Intelijen Kemanan Dalam Negeri dan Pengawal Khusus Kepresidenan. Ia juga membangun tentara Garda Republik. Mereka bukan tentara profesional, tapi sangat militan dan setia kepada Saddam. Ia kuasai sistem keamanan dan militer, dengan menempatkan familinya di posisi kunci, dan di setiap departemen.

Akankah ia memanfaatkan senjata kimia untuk pertahanannya?

Tentu ia tak menghendakinya. Namun jika keadaan memaksa, ia bisa melakukannya. Amerika tidak akan mendapatkannya hidup-hidup. Saddam enggan hidup di pengungsian, apalagi dalam penjara. Ia hanya mau meninggalkan Irak dalam kematian.

Jika kekuatan udara Amerika dan sekutunya kembali menyerang Irak, seperti tahun 1999?

Serangan militer, apapun bentuknya, hanya akan melambungkan nama Saddam. Ia makin berkibar dengan menggaungkan perlawanan terhadap agresor. Di hadapan rakyat Irak ia akan berkoar, “Lihatlah, tindakan musuh kita, yang menyerang instalasi militer, mengembargo makanan dan obat-obatan, membuat hidup kita makin sengsara.” Secara psikologis, rakyat Irak akan mendukungnya. Di mata bangsa Arab dan muslim dunia pun namanya makin berkibar, karena Sadaam lah satu-satunya pemimpin Arab yang berani melawan Amerika dan sekutunya.

Sekarang pun, namanya sangat populer di mata rakyat Yordania, Palestina, Syria, dan para pemuda Mesir, karena Saddam berani membusungkan dada kepada Barat. Dia mampu bertahan 9 tahun di tengah tindakan embargo dan marginalisasi terhadap negerinya. Di mata non warga Irak, Saddam adalah pahlawan. Mereka hanya melihat sisi keberanian Saddam menantang Barat, tapi tak pernah merasakan kesengsaraan yang diderita rakyat Irak. Sudah, cukuplah, jangan menjadikannya makin hero dengan melancarkan serangan militer ke Irak. Sebab rakyat pun akan kian sengsara, dan Saddam sangat pintar memanfaatkan situasi.

Jadi, apa cara terbaik menyingkirkan Saddam?

Ia akan melepaskan jabatannya, atau menghadapi kelompok yang ingin menggulingkannya, hanya dengan satu cara, yakni kekerasan, baik lewat kudeta maupun pertumpahan darah. Lingkaran di sekitar Saddam kian hari makin menyempit. Orang-orang kepercayaannya makin berkurang, dan Saddam hanya bertumpu pada anggota keluarganya. Ia bukanlah presiden karena kepopulerannya, melainkan karena Amerika, Inggris, kelompok oposisi, atau siapa pun yang membencinya, selalu memberi jalan baginya untuk tetap “hidup” di benak rakyat Irak.

Kalau saja rakyat Irak diyakinkan bahwa segalanya akan menjadi lebih baik, Irak tidak akan terpecah atau dijajah, akan diberi kebebasan mengurus sendiri perusahaan minyaknya, dijamin tidak akan banyak pihak yang dihukum, dibunuh atau dipenjara setelah Saddam turun, pastilah akan lebih gampang mengenyahkan Saddam. Pasti akan kian surut jumlah rakyat Irak yang sudi mati untuk membelanya. Ini strategi yang luput dari lawan-lawan Saddam.

Yang menggelikan adalah, kini banyak warga Irak di luar negeri yang meminta bantuan Amerika untuk mengenyahkan Saddam. Mestinya, mereka membangun jaringan yang kuat dengan orang-orang di lingkaran Saddam. Tapi mereka tak melakukannya, lantaran khawatir akan kehilangan posisi kekuasaannya, jika Saddam jatuh kelak. Padahal jalan inilah yang harus ditempuh. Sesudah itu, semua akan berjalan mulus, dan Saddam pun akan enyah dengan gampang.

Anda yakin orang di sekitar Saddam menghendakinya turun?

Ya. Baik orang-orang dekatnya di militer, pengawal keamanannya, atau para birokrat di seluruh Irak, pasti banyak yang menghendakinya pergi, untuk mengubah situasi Irak menjadi lebih baik. Tapi mereka harus diyakinkan, tidak akan sengsara jika melakukannya. Persoalannya, kita gagal membangun jaringan dengan orang-orang di sekitar Saddam. Kita hanya membangun kekuatan dengan warga Irak di London, Washington, atau kawasan lain Eropa, yang sama sekali tidak pernah lagi bersentuhan secara langsung dengan rakyat Irak. Ubahlah strategi itu kalau ingin sukses. Sebab, di samping kehendak Allah, itulah cara terbaik menyingkirkannya.

Percayalah, Saddam sesungguhnya tidak memiliki basis massa yang kuat. Ia bisa bertahan karena rakyat Irak hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Jika perasaan itu ditumpas, dan keberanian ditumbuhkan dengan cara memberi garansi seperti tadi, pasti mereka akan bersatu padu melawan Saddam. Gerakan rakyat akan sukses, seperti ketika mereka bersama Saddam berhasil menumbangkan diktator pendahulunya. Bahkan orang yang selama ini berada di lingkaran Saddam, dan sangat melindunginya, akan ikut dalam gerakan ini.

MGM
Insani-4, Agustus 2002

Sunday, December 17, 2006

Demi Negara Menjemput Maut



Ratusan manusia tumpah ruah di kediaman Shadi Tubasi, mengucap belasungkawa, lalu meneguk secangkir kopi. Di depan pintu, anggota keluarga Tubasi membentuk barisan, menyambut para tetamu yang sebagiannya membawa kartu ucapan selamat untuk keluarga pahlawan, atas kesuksesannya meledakkan diri di sebuah restoran di Haifa, Israel. Tak tampak tanda-tanda kesedihan di mata keluarga.

Di pojokan, Walid Fayad (31 tahun) yang menenteng senapan M-16 berkisah, perjamuan kali ini agak beda. Tak ada gula dalam seduhan kopi kapulaga yang terhidang di cangkir kecil bikinan Cina. “Hari ini minuman kami lebih pait, sepait perasaan Israel atas kesuksesan keluarga Tubasi,” kata Fayad tanpa senyum.

Sore awal April, memang mengerikan buat warga Haifa. Shadi Tubasi, pemuda 18 tahun, menyusup ke dalam restoran yang ramai pengunjung. Tubuhnya terlilit rangkaian detonator berkekuatan tinggi, dan sebuah remote. Boooomm!!! Lima belas nyawa pun melayang, dengan darah dan koyakan-koyakan tubuh yang bercecer di jalan raya.

Perjamuan malam itu berlangsung di kawasan kumuh kamp pengungsi Jenin. Wajah para pengunjung tampak ceria, meskipun tak bisa menutupi kewaspadaan di mata mereka. “Sebentar lagi pasti ada pembantaian,” kata Fayad. “Tapi kami siap untuk syahid. Kami ingin pergi ke sana dengan tubuh berbalut bom. Itu lebih baik ketimbang duduk di rumah, menunggu Israel membunuh kami. Sebelum mereka membunuhku, aku harus melakukan sesuatu, meledakkan diri di tengah kaum zionis,” ucapan Fayad kian menggebu.

Fayad benar, pasti ada pembantaian menyusul setiap aksi bom syahid. Tindakan Shadi menjadi salah satu pemicu kebrutalan tentara Israel. Kita pun tahu, sepanjang bulan April, adrenalin perang Perdana Menteri Ariel Sharon kembali menggelegak. Ribuan pasukan, lengkap dengan mesin perang seperti helikopter Apache, pesawat tempur F-16, tank Merkava, merangsek ke berbagai pelosok wilayah Palestina, memuntahkan mesiu ke segala penjuru, membumihanguskan kamp-kamp pengungsi, pusat bisnis, perkantoran dan bangunan ibadah, termasuk gereja kelahiran Yesus. Kantor Presiden Otoritas Palestina Yasser Arafat pun jadi sasaran. Bahkan Arafat selama sebulan dikurung di dalamnya.

Surutkah aksi para syuhada? Ternyata tidak, dan malah kian menggebu. Selama 18 bulan terakhir, berlangsung 50 aksi peledakan diri para syuhada, yang kebanyakan masih berumur belasan, dan di antara mereka ada sejumlah wanita. Aksi itu menewaskan sedikitnya 200 warga Israel, termasuk beberapa pasukan Sharon.

Selasa 18 Juni lalu, Muhammad Haza el-Rol (22 tahun), mahasiswa Universitas Najah, Nablus, meledakkan dirinya dalam bus kota penuh penumpang yang tengah berhenti di sebuah halte di Jerussalem, menewaskan sedikitnya 20 orang. Sistem keamanan Israel yang dalam kondisi siaga satu di kawasan itu, ternyata tidak efektif menghadapi aksi serangan bom syahid.
Sebelumnya, 5 Juni, aksi bom syahid juga mengguncang Megiddo, dekat Haifa, menewaskan 16 warga Israel. Dan seperti biasa, militer Israel kembali melancarkan serangan balasan, dengan memporak-porandakan sebagian besar bangunan kantor kediaman Arafat di Ramallah. Arafat sendiri terhindar dari maut.

Menurut tokoh Front Pembebasan Palestina Dr. Rabah Mohanna, para pemuda lebih berani melakukan aksi peledakan – termasuk yang menewaskan salah seorang menteri pemerintahan Sharon tahun lalu. “Masih ada ribuan pemuda dan pemudi yang siap meledakkan diri. Ini penomena baru, dan Anda tak bisa membayangkan betapa besarnya ghirah mereka,” kata Mohanna.

Hingga akhir tahun lalu, “bisnis” bom syahid menjadi monopoli dua organisasi militan, Hamas dan Jihad Islam. Kedua kelompok ini memang menentang proses perdamaian Arafat-Sharon yang hasilnya kerap mengecewakan warga Palestina. Namun sejak awal tahun ini, aksi bom syahid tak cuma milik Hamas dan Jihad Islam, tapi berkembang ke sejumlah kelompok lain. Salah satunya adalah Brigade Syahid Al-Aqsha di kamp pengungsi Balata, di pinggiran kota Nablus. Kelompok ini dinaungi faksi Al-Fatah, organisasi yang turut didirikan Yasser Arafat. Sharon sendiri kini menganggap Nablus dan Jenin sebagai dua kota sumber teror yang selalu menghantui hari-hari warga Israel.

“Tak perlu mencari, mereka datang sendiri kepada kami, siap mati. Setelah dilatih tim dari Unit Syahadah, mereka paham apa yang mesti mereka lakukan, dan yakin bahwa mereka mati demi membela negara,” kata Nasser Badawi, Komandan Brigade Syahid Al-Aqsha. Lalu kenapa harus meledakkan tempat-tempat yang dipenuhi warga sipil Israel? “Itu mengandung dua pesan. Pertama, mengingatkan pasukan keamanan Israel, bahwa kami masih bisa menyentuh mereka, dan semua jaringan keamanan mereka sama sekali tak berarti. Kedua, mengingatkan warga Israel, bahwa itulah akibat dari kebijakan Sharon terhadap bangsa Palestina,” jawab Badawi.

Badawi mengungkap hasratnya untuk meningkatkan kerusakan dan jumlah korban di pihak Israel. “Mereka membunuh anak-anak dan wanita Palestina di jalanan, maka kami berupaya memaksimalkan korban di pihak mereka. Sebab, darah harus dibayar darah, kekerasan dengan kekerasan, dan penindasan dengan penindasan. Kami lakukan seperti apa yang mereka perbuat. Oh, tidak, kami tak akan pernah membalas kebrutalan mereka dengan kiriman bunga,” kata Badawi lagi.

Brigade Syahid Al-Aqsha menolak sukarelawan yang berumur di bawah 18 tahun, juga lelaki yang telah menikah dan punya anak, atau satu-satunya pencari nafkah dalam sebuah keluarga. Perencanaan misi bom syahid sangat dirahasiakan. Para sukarelawan biasanya dikelompokkan dalam 6 hingga 8 jaringan. Mereka dilatih berbagai taktik -- diselingi petuah-petuah keagamaan, termasuk cara merakit dan membawa bom, memilih dan memonitor sasaran, mengorganisir akomodasi dan penyamaran.

Beberapa hari menjelang pelaksanaan misi, sang calon syahid diperintahkan untuk menjauhi rumah dan markasnya. Lalu mulailah periode pentahbisan. Secara intensif, ia menjalani penggodokan ruhani bersama tokoh spiritual dan psikologi, untuk meyakinkan keabsahan misinya, sekaligus akibatnya bagi perjuangan bangsa Palestina, dan tentang ganjaran yang akan diperolehnya sesudah syahid.

******

Suatu malam yang larut, di sebuah bekas apartemen kumuh di kamp pengungsi Jabaliya, dua lelaki anggota Jihad Islam, mengaku tengah dilatih untuk aksi bom syahid. Mereka enggan mengungkap nama. “Terlalu beresiko,” kata yang satunya. Yang pasti, salah satunya, berumur 29 tahun, mengajar bahasa Inggris, dan yang seorang lagi, 22 tahun, mahasiswa Studi Islam di sebuah perguruan tinggi.

“Setiap tengah malam kami melangsungkan doa khusus, berpuasa Senin-Kamis. Ada hari-hari tertentu untuk pelatihan di kamp sayap militer Jihad Islam. Dan selebihnya, kami hidup bahagia bersama keluarga,” kata sang guru bahasa Inggris. “Saya terpilih melancarkan misi serangan ke pos pengamanan Israel, makanya dilatih juga cara menggunakan senapan di sebuah lapangan,” katanya lagi. Dalam misis seperti ini, sang syahid biasanya melancarkan tembakan ke pos pengamanan, dan baru berhenti ketika salah satu tentara Israel berhasil menembaknya roboh.

“Kami juga diajari cara berpakaian, berjalan dan bersikap di sekitar sasaran pemboman, menyamar seperti turis atau tentara Israel. Komandan kami tinggal menentukan sasarannya, dan di lokasi sasaran itu kami berlatih berkali-kali sebelum pelaksanaan misi – layaknya gladi bersih, untuk meyakinkan keberhasilan aksi ini,” kata sang mahasiswa.

Keduanya telah menikah, dan dari isteri masing-masing telah mendapat restu melaksanakan misi syahid. Bahkan sang mahasiswa mengaku, isterinya pun telah mendaftarkan diri melakukan aksi bom syahid, namun ditolak karena saat ini tengah hamil. “Kami menikah dan akan punya anak, pergi ke pusat komputer dan play games, dan menonton televisi, lalu menghilang di tengah malam,” katanya.

Muna Galbia Maulida


BAGIAN 2:

Berjumpa Awliya di Surga


Aksi bom syahid, atau yang oleh pihak Israel dan Barat disebut sebagai bom bunuh diri, dan bahkan aksi terorisme, sebetulnya merupakan ekses dari akumulasi kebiadaban perang dan penjajahan yang dilancarkan Israel sejak 1948. Ia hanyalah sebuah taktik bertahan dari ketidakadilan dan kebrutalan yang mengangkangi kemanusiaan. Ia hanyalah cara terakhir ketika diplomasi, negoisasi, kompromi dan proses perdamaian, ujung-ujungnya hanyalah menguntungkan pihak penindas.

Sebelum 1983, hanya sedikit berlangsung aksi bom syahid. Namun setelah Amerika Serikat menempatkan ribuan marinir di Beirut, pemimpin sayap Hizbullah mulai melemparkan gagasan melancarkan taktik senjata pamungkas ini, bom syahid. Sejumlah pemimpin spritual Iran pun memberi lampu hijau.

Dan mulailah gelombang aksi bom syahid. Berawal dari aksi peledakan truk bermuatan bom yang menewaskan 60 staf kedutaan besar Amerika, April 1983, kemudian peledakan markas marinir di dekat bandara Beirut yang menewaskan 240 nyawa pada Oktober tahun yang sama. Ekses aksi ini cukup mujarab, membuat pasukan Amerika, dan kemudian pasukan Israel, hengkang dari Lebanon.

Secara perlahan, taktik bom syahid diperkenalkan dalam kancah perjuangan rakyat Palestina. Pendiri Jihad Islam, Fathi Shiqaqi, pada 1988 menulis bantahan terhadap pendapat sejumlah ulama yang mengutuk aksi bom syahid. Menurutnya, tindakan itu bukan bunuh diri, melainkan bagian dari jihad melawan kezaliman, ketika cara lain tak mampu mengusir kaum penjajah dari bumi kaum muslimin.

Pertengahan 1990-an, kelompok Hamas memanfaatkan aksi bom syahid sebagai taktik untuk memprotes hasil perjanjian damai Oslo yang isinya sangat merugikan warga Palestina. Pembunuhan terhadap pelopor pembuat bom Palestina, Yahya Ayash oleh agen Israel, Januari 1996, juga menyulut sejumlah bom syahid, sebagai aksi pembalasan.

Selama dua tahun, aksi bom syahid sempat mereda, dan baru muncul lagi setelah Yasser Arafat walk out dari arena konferensi perdamaian di Camp David. Di mata warga Palestina, tindakan Arafat yang biasanya ngotot untuk mengedepankan proses diplomasi, menjadi pertanda bahwa tak mungkin kompromi dan negosiasi menjadi sarana perjuangan untuk mengambil kembali tanah mereka yang dirampas. Bom syahid menjadi pilihan.

Wartawan Pakistan Nasra Hassan, dari tahun 1996 hingga 1999 pernah mewawancarai lebih 250 sukarelawan yang mendaftarkan diri untuk melancarkan bom syahid. “Tak satu pun dari mereka yang kurang pendidikan, berasal dari keluarga miskin, atau mengidap depresi,” tulisnya dalam The New Yorker. Mereka sangat saleh, namun fanatisme keagamaan tak menunjukkan motivasi mereka. Para sukarelawan juga memiliki pekerjaan yang lumayan.

Kebanyakan sukarelawan itu pernah kehilangan keluarga atau kawan dekat yang dibunuh tentara Israel, dan inilah salah satu motivasi terkuat menjadi sukarelawan bom syahid. Sebagian lain – namun yang ini hanya pengamatan sejumlah pakar, melakukan aksi bom syahid sebagai cerminan loyalitas terhadap kelompok perjuangan mereka. Selama menjalani pelatihan, selain janji ganjaran surgawi, mereka juga diyakinkan bahwa keluarga yang ditinggalkan akan mendapatkan bonus materi.

Sumber Hamas mengungkapkan, setiap keluarga sukarelawan mendapat 4500 dolar Amerika. Sedangkan tentara Israel yang menggeladah markas Arafat menemukan dokumen Brigade Syahid Al-Aqsha, yang mengungkap bahwa setiap keluarga sukarelawan dibayar 700 sekel (350 dolar Australia). Tidak ada konfirmasi soal ini dari pihak Brigade Al-Aqsha.

Calon syahid juga dipersilakan menulis atau merekam pernyataan terakhir sebelum melancarkan aksi. Salah satu pernyataan ini, tahun 1995, pernah dilansir media massa: “Aku pergi untuk membalas tindakan kaum zionis dan musuh kemanusiaan. Aku akan berjumpa dengan saudaraku Hisyam Hamid dan para syuhada beserta awliya di surga.” Jika sudah membuat pernyataan akhir, tak pernah ada sukarelawan yang mengurungkan aksinya.

Warga Israel dan kacamata Barat tentu menganggap ganjil, menyaksikan pengakuan orangtua atau keluarga para syahid usai melancarkan aksinya. Dalam berbagai wawancara, para orangtua syahid mengaku senang dan bangga lantaran anaknya menjadi pahlawan perjuangan Palestina. Bahkan mereka rela jika anaknya yang lain melancarkan aksi serupa.

Tapi bagaimana pun, tampilan pernyataan terakhir sang sukarelawan, dan pengakuan pihak keluarga syahid di media massa, berperan besar dalam mensosialiasikan budaya bom syahid – bagi warga Palestina dan umumnya warga Arab, sebagai alternatif paling jitu menghadapi kebebalan sikap pemerintahan Israel. Media massa tak cuma menampilkan foto-foto sang syahid, dan koyakan-koyakan daging mereka yang bercecer di jalanan usai aksi peledakan. Media massa juga melansir undangan perjamuan di kediaman syahid, untuk memberi ucapan selamat kepada keluarga. Seperti yang berlangsung di rumah Shadi Tubasi itu, siapa pun bisa menghadirinya.

Akibatnya, aksi bom syahid menjadi kian populer. Sebuah survey menunjukkan, 70 hingga 80 persen warga Palestina mendukung tindakan bom syahadah, dan menjadikannya lebih populer ketimbang kelompok Hamas, Jihad Islam atau Brigade Syahid Al-Aqsha yang mensponsorinya, dan tentu saja lebih populer ketimbang jalur negosiasi dan diplomasi.


BOX:

Nasionalisme dan Legitimasi Syahadah



“Di gerbang surga, setiap syahid akan disambut 72 bidadari yang sangat cantik tiada tara. Kulitnya sungguh putih bersih, sehingga Anda bisa melihat darahnya mengalir di urat nadi. Jika mereka meludahi samudera, maka air laut pun menjadi manis rasanya. Sang syahid tak pernah merasakan sakit pasca kematian, bahkan akan mendapati kesenangan belaka. Sungguh, ini yang akan mereka rasakan di sana,” kata Khaled, seorang pekerja hotel di Jerussalem, menggebu-gebu merinci ganjaran yang bakal diperoleh para sukarelawan jihad pasca kematian kelak.

Tapi, benarkah aksi bom syahid lebih didominasi motivasi ajaran agama Islam? John Kelsay, Guru Besar bidang agama di Florida State University membantahnya. “Tindakan itu dilancarkan warga Palestina yang dikungkung ketidakadilan. Mereka tak memiliki mesin perang dan pasukan terlatih yang seimbang dengan pihak militer Israel. Mereka juga dirugikan lantaran tiadanya dukungan penuh dunia internasional, terutama dari “polisi dunia” Amerika Serikat, terhadap perjuangan kemerdekaan negaranya,” kata Kelsay, penulis buku “Islam and War”.

Lebih jauh, wartawan Arab Nabila Harb meragukan dominannya motivasi ajaran Islam dalam aksi bom syahid di Palestina. Sebab, aksi peledakan ini dilancarkan oleh berbagai kalangan yang berlainan ideologi – muslim, Kristen, komunis, nasionalis, atau para patriot yang mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan tanah air. Seperti yang sering digaungkan Yasser Arafat, pengorbanan jiwa dalam perjuangan rakyat Palestina, semata karena hak-hak hidup mereka dirampas tentara dan pemerintah Israel.

Menurut Nabila, ajaran agama soal konsep syahid hanyalah pengesah terhadap aksi perlawanan mereka melawan kezaliman dan kesewenangan penjajah. Bukahkan konsep jihad dalam Islam juga muncul untuk melawan kezaliman? Nabila pun lebih tidak yakin lagi jika motivasi aksi bom syahid itu lantaran adanya iming-iming uang bagi keluarga yang ditinggalkan. Bukankah sebagian sukarelawan itu datang dari keluarga yang berkecukupan?

Nabila kemudian membantah tudingan pihak Israel dan Amerika Serikat, bahwa mayoritas sasaran operasi bom syahid adalah ruang-ruang publik yang dijejali warga sipil, sehingga merekalah yang menjadi korban. Nabila menegaskan, dalam kasus bom syahid di wilayah pendudukan – baik di Haifa, Hebron maupun Jerussalem, tidak ada warga sipil Israel yang jadi korban. Sebab, wilayah pendudukan pada dasarnya adalah milik warga Palestina.

Artinya, menurut Nabila, siapapun warga Israel yang memilih tinggal di wilayah pendudukan – yang kemudian disebut pemukim atau imigran atau apa pun istilahnya, adalah “penyerbu” atau penjajah, bukan lagi warga sipil. Kehadiran mereka di wilayah pendudukan, sama saja dengan deklarasi perang terhadap warga Palestina. Mereka tak beda dengan tentara Israel, dan sah-sah saja dijadikan target aksi bom syahid.

Nabila malah menyarankan Israel dan Amerika Serikat berkaca diri. Sebab, justru mayoritas korban kekejaman Israel di wilayah pendudukan adalah warga sipil tak berdosa. Dan Amerika? Ah, siapa pun tahu, dalam setiap aksi serangan militernya ke berbagai negeri – Irak, Afganistan, atau Sudan misalnya, mayoritas korban yang diterjang mesin perangnya adalah warga sipil.

Muna Galbia Maulida
Insani-3, Juli 2002